• KEISLAMAN

Malu Bagian dari Iman

Yahya Sukamdani | Jum'at, 30/01/2026
Malu Bagian dari Iman Ilustrasi foto seorang malu karena berbuat kesalahan

Terasmuslim.com - Malu dalam Islam bukan sekadar perasaan tidak enak hati di hadapan manusia, melainkan sifat mulia yang lahir dari kesadaran akan pengawasan Allah. Rasulullah ﷺ menegaskan dalam hadis shahih: “Al-hayā’u minal īmān” (Malu adalah bagian dari iman) (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa rasa malu memiliki kedudukan tinggi dalam bangunan iman seorang Muslim.

Al-Qur’an menggambarkan malu sebagai akhlak terpuji yang mengiringi kesucian jiwa. Dalam kisah putri Nabi Syu’aib, Allah berfirman: “Kemudian datanglah kepadanya salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan rasa malu” (QS. Al-Qashash: 25). Ayat ini menunjukkan bahwa rasa malu adalah perhiasan kepribadian, khususnya dalam menjaga kehormatan dan adab pergaulan.

Rasa malu yang benar akan mendorong seseorang untuk taat dan menjauhi dosa. Rasulullah ﷺ bersabda: “Malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan” (HR. Bukhari). Artinya, orang yang memiliki malu akan terhalang dari perbuatan keji, ucapan kotor, serta tindakan yang dimurkai Allah, baik di tempat sepi maupun di hadapan orang lain.

Sebaliknya, hilangnya rasa malu menjadi pertanda lemahnya iman. Rasulullah ﷺ mengingatkan: “Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu” (HR. Bukhari). Hadis ini bukan perintah, melainkan peringatan keras bahwa ketika malu telah hilang, seseorang akan mudah terjerumus dalam dosa tanpa rasa bersalah.

Dalam kehidupan modern, rasa malu sering disalahpahami sebagai sikap kolot atau tidak percaya diri. Padahal, dalam Islam, malu adalah kekuatan moral yang menjaga kehormatan diri. Malu kepada Allah mendorong seorang Muslim untuk menjaga pandangan, lisan, aurat, dan perilaku, sebagaimana perintah Allah: “Katakanlah kepada orang-orang beriman agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya” (QS. An-Nur: 30).

Dengan demikian, malu adalah benteng iman dan sumber kebaikan. Semakin kuat iman seseorang, semakin kuat pula rasa malunya kepada Allah. Ulama salaf mengatakan, iman dan malu berjalan beriringan; jika salah satunya dicabut, maka yang lain akan ikut hilang. Karena itu, menjaga rasa malu berarti menjaga iman agar tetap hidup dan bercahaya.