Ilustrasi wanita Muslim yang menggunakan media sosial
Terasmuslim.com - Hilangnya rasa malu kini menjadi fenomena sosial yang kian nyata di tengah arus modernisasi dan digitalisasi yang tak terbendung.
Banyak orang dengan mudah mempertontonkan privasi dan perilaku yang melanggar norma hanya demi mendapatkan pengakuan secara instan.
Dalam kacamata Islam, rasa malu bukanlah sekadar emosi manusiawi, melainkan bagian integral yang menentukan kualitas iman seseorang.
Rasulullah SAW secara tegas mengaitkan keberadaan rasa malu dengan eksistensi iman dalam hati seorang mukmin yang sejati.
"Malu dan iman itu adalah teman sejawat, jika salah satunya diangkat maka yang lainnya juga ikut terangkat." (HR. Al-Hakim).
Salah satu penyebab utama luluhnya rasa malu adalah lingkungan yang semakin permisif terhadap segala bentuk kemaksiatan dan gaya hidup hedonis.
Standar moral yang bergeser membuat hal-hal yang dahulu dianggap tabu kini dipandang sebagai kebebasan berekspresi yang sangat wajar.
Media sosial turut berperan besar dalam menciptakan panggung pamer yang mematikan sensitivitas nurani manusia terhadap rasa malu.
Al-Qur`an mengingatkan kita bahwa setan senantiasa berusaha menanggalkan "pakaian" malu manusia agar mereka tersesat dalam keburukan.
"Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana mereka telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya..." (QS. Al-A`raf: 27).
Ketika rasa malu telah hilang, manusia cenderung bertindak semaunya tanpa memikirkan konsekuensi di dunia maupun di akhirat kelak.
Hadits Nabi memperingatkan bahwa jika seseorang sudah tidak memiliki rasa malu, maka ia akan melakukan apa saja tanpa batas.
"Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sekehendakmu." (HR. Bukhari).
Hilangnya rasa malu juga berakar dari lemahnya muraqabah atau perasaan selalu diawasi oleh Allah SWT dalam setiap hembusan nafas.
Seseorang yang menyadari kehadiran Tuhan tidak akan berani melakukan tindakan yang menghinakan martabat dirinya sebagai hamba.
Mengembalikan rasa malu dimulai dari memperbaiki hubungan spiritual dengan Sang Khalik serta selektif dalam memilih lingkungan pergaulan.
Semoga kita termasuk hamba yang dianugerahi sifat malu sebagai pelindung diri dari kehancuran akhlak di akhir zaman ini.