• KEISLAMAN

Bukan Sekadar Darah dan Daging, Melainkan Takwa

Yahya Sukamdani | Kamis, 14/05/2026
Bukan Sekadar Darah dan Daging, Melainkan Takwa Ilustrasi penyembelihan hewan kurban (Foto: kompas)

Terasmuslim.com - Ibadah kurban yang kita jalankan setiap tahun memiliki akar filosofis yang sangat dalam dalam ajaran Islam.

Al-Qur’an menegaskan bahwa esensi utama dari penyembelihan hewan bukanlah terletak pada aspek fisiknya semata.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hajj ayat 37 bahwa daging dan darah kurban itu sekali-kali tidak akan mencapai keridhaan-Nya.

"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu." (QS. Al-Hajj: 37).

Ayat ini menjadi fondasi editorial kita bahwa kurban adalah simbol penyucian jiwa dari sifat kebinatangan yang rakus.

Darah yang tumpah merupakan perlambang pengorbanan ego manusia demi menuruti perintah Sang Khalik yang Maha Tinggi.

Daging yang dibagikan adalah manifestasi kesalehan sosial untuk merekatkan ukhuwah antar sesama mukmin tanpa sekat strata.

Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa tidak ada amal anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menumpahkan darah kurban.

Hadits riwayat Tirmidzi tersebut menjelaskan bahwa hewan kurban akan datang pada hari kiamat dengan tanduk dan bulunya sebagai saksi.

Filosofi kurban juga mengajarkan kita tentang sejarah kepatuhan total Nabi Ibrahim AS saat diminta menyembelih putranya, Ismail AS.

Peristiwa tersebut membuktikan bahwa cinta kepada Allah harus melampaui cinta kepada harta, keluarga, maupun dunia seisinya.

Kurban mendidik setiap Muslim untuk memiliki jiwa filantropi dan kepedulian terhadap mereka yang jarang menikmati hidangan bergizi.

Setiap tetesan darah hewan kurban menjadi penebus dosa dan pengangkat derajat bagi hamba yang ikhlas melaksanakannya.

Secara batiniah, menyembelih hewan kurban berarti menyembelih sifat sombong, iri, dan dengki yang bersemayam di dalam dada.

Semoga ritual tahunan ini tidak menjadi rutinitas tanpa makna, melainkan momentum transformasi spiritual menuju derajat takwa sejati.

Mari kita jadikan Idul Adha sebagai ajang pembuktian bahwa ketakwaan adalah satu-satunya bekal yang akan sampai ke hadirat-Nya.