Ilustrasi foto tokoh penyebar Islam Indonesia Timur
Terasmuslim.com - Penyebaran Islam ke wilayah timur Nusantara Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua pesisir merupakan kelanjutan dari gelombang dakwah maritim yang berangkat dari pusat-pusat perdagangan Muslim. Prinsipnya teguh pada firman Allah dalam Al-Qur`an, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik” (QS. An-Nahl: 125). Dakwah dijalankan dengan akhlak, pendidikan, dan keteladanan, sehingga Islam berakar dalam adat dan tata pemerintahan lokal.
Di Kalimantan, salah satu tokoh penting adalah Sultan Suriansyah, sultan pertama Kesultanan Banjar pada abad ke-16. Ia memeluk Islam dan menjadikannya dasar kerajaan, membuka jalan bagi penguatan syariat dalam struktur sosial Banjar. Melalui dukungan ulama dan jaringan dagang, Islam menyebar ke pesisir dan pedalaman sungai-sungai besar Kalimantan.
Di Sulawesi, dakwah Islam kuat melalui peran tiga ulama Minangkabau yang dikenal sebagai Dato’ Tallu, terutama Dato ri Bandang. Ia berperan dalam Islamisasi Kerajaan Gowa-Tallo pada awal abad ke-17. Setelah Raja Gowa memeluk Islam dan bergelar Sultan Alauddin, dakwah berkembang cepat ke Bone, Wajo, dan Luwu. Pendekatan dakwahnya menekankan tauhid, fikih dasar, dan pembinaan moral masyarakat.
Sementara di Maluku, pusat dakwah berada di Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore. Dari Ternate, tampil sosok besar Sultan Baabullah yang memperluas pengaruh Islam hingga ke wilayah timur. Dari Tidore, Sultan Nuku memperkuat jaringan politik dan dakwah hingga Raja Ampat. Islam diintegrasikan dalam hukum adat, struktur pemerintahan, serta diplomasi antarwilayah.
Adapun di Papua pesisir, Islam masuk melalui relasi dagang dan politik dengan Tidore dan Ternate, khususnya di wilayah Raja Ampat dan Fakfak. Para mubalig dan pedagang Muslim memperkenalkan Islam secara bertahap melalui hubungan kekerabatan dan pendidikan dasar agama. Perdagangan rempah-rempah menjadi jalur efektif penyebaran nilai-nilai tauhid, sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa pedagang yang jujur akan dikumpulkan bersama para nabi dan orang-orang saleh.
Sejarah ini menunjukkan bahwa Islam di timur Indonesia tidak hadir melalui penaklukan semata, melainkan lewat kolaborasi sultan, ulama, dan saudagar. Dari Kalimantan hingga Papua pesisir, dakwah berakar pada hikmah dan keteladanan. Integrasi ajaran Islam dalam adat dan pemerintahan membuktikan bahwa nilai syariat mampu bersinergi dengan budaya lokal, membentuk peradaban Islam Nusantara yang kokoh dan berkelanjutan.