Ilustrasi majelis ilmu
Terasmuslim.com - Ilmu agama merupakan warisan para nabi yang harus dijaga kemurniannya melalui transmisi yang jelas.
Belajar agama secara otodidak hanya melalui buku atau internet tanpa bimbingan guru berisiko memicu salah tafsir.
Seorang guru berfungsi sebagai penunjuk jalan yang meluruskan pemahaman teks yang bersifat implisit maupun eksplisit.
Dalam tradisi Islam, keberadaan sanad atau silsilah keilmuan adalah bagian dari agama itu sendiri agar tak sembarang orang berbicara.
Abdullah bin Mubarak rahimahullah menegaskan bahwa sanad adalah bagian dari agama, jika tanpanya maka orang akan bicara sekehendak hati.
Al-Qur`an secara tersirat memerintahkan umat Islam untuk bertanya kepada ahli ilmu jika tidak mengetahui suatu perkara.
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui," tegas Allah dalam Surah An-Nahl ayat 43.
Tanpa guru, seseorang rentan terjebak dalam pemikiran yang ekstrim atau justru terlalu menggampangkan syariat agama.
Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah tidak mencabut ilmu secara langsung, melainkan dengan mewafatkan para ulama secara bertahap.
Hadist riwayat Bukhari menjelaskan bahwa ketika ulama tiada, orang-orang akan mengangkat pemimpin jahil yang menyesatkan dengan fatwanya.
Seorang murid membutuhkan guru untuk memahami konteks asbabun nuzul ayat dan asbabul wurud sebuah hadist secara utuh.
Guru juga berperan dalam mentransfer adab sebelum ilmu, hal yang tidak bisa didapatkan hanya dengan membaca teks mati.
Kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk menyelami kedalaman makna wahyu tanpa bimbingan spiritual dari para pewaris nabi.
Belajar agama secara terstruktur melalui bimbingan ahli akan menjaga kita dari pemahaman yang tercerabut dari akar tradisi ulama.
Semoga kita dimudahkan untuk menemukan guru-guru yang mukhlish guna menuntun langkah menuju ridha Allah SWT.