Ilustrasi foto fanatik terhadap manusia
Terasmuslim.com - Mengagumi sosok teladan adalah hal fitrah, namun Islam memberikan batasan tegas agar kekaguman tersebut tidak melampaui batas.
Sikap berlebih-lebihan atau ghuluw dalam memuji seseorang dapat mengikis kemurnian tauhid dan menjerumuskan pada pengkultusan.
Setiap manusia, betapapun hebat prestasinya, tetaplah hamba Allah yang memiliki kekurangan dan keterbatasan sifat insaniyah.
Al-Qur`an mengingatkan bahwa hanya Allah SWT yang berhak mendapatkan pujian mutlak tanpa ada sedikit pun celah cela.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 165, Allah memperingatkan tentang orang-orang yang menjadikan tandingan bagi-Nya karena kecintaan yang salah.
"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah." (QS. Al-Baqarah: 165).
Rasulullah SAW sebagai manusia paling mulia pun secara tegas melarang umatnya untuk memuji beliau secara berlebihan.
Dalam hadist riwayat Bukhari, Nabi bersabda agar jangan menyanjungnya sebagaimana kaum Nasrani menyanjung putra Maryam.
Beliau menekankan kedudukan beliau sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya guna mencegah munculnya bibit-bibit kesyirikan.
Kekaguman yang buta sering kali membuat seseorang menutup mata terhadap kesalahan sosok yang ia idolakan secara fanatik.
Secara psikologis, ketergantungan hati pada figur manusia hanya akan membuahkan kekecewaan mendalam saat sosok tersebut terjatuh.
Islam mengajarkan kita untuk mencintai dan membenci seseorang secara proporsional sesuai dengan tuntunan syariat yang lurus.
Cukuplah kita menjadikan ketaatan seseorang kepada Allah sebagai ukuran, tanpa harus menuhankan pribadinya secara berlebihan.
Menjaga jarak yang sehat dalam mengagumi tokoh akan membantu hati tetap fokus bersandar hanya kepada Dzat Yang Maha Abadi.
Semoga Allah menjaga hati kita agar tidak terjebak dalam kultus individu yang dapat merusak tatanan aqidah dan logika.