• KEISLAMAN

Benarkah Tidurnya Orang Puasa Berpahala?

Yahya Sukamdani | Senin, 02/03/2026
Benarkah Tidurnya Orang Puasa Berpahala? Ilustrasi tidur siang dibawah pohon

Terasmuslim.com - Hadist yang cukup masyhur di tengah masyarakat berbunyi, “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah.” Dalam redaksi lengkapnya disebutkan, “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan, dan doanya mustajab.” Riwayat ini sering dinisbatkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, khususnya saat bulan Ramadhan. Namun benarkah hadist tersebut shahih dan bisa dijadikan landasan bahwa semakin banyak tidur saat puasa semakin besar pahala?

Para ulama ahli hadist menjelaskan bahwa riwayat tersebut tergolong hadist dhaif (lemah). Hadist ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan al-Baihaqi, namun dalam sanadnya terdapat perawi yang dinilai lemah oleh para ulama jarh wa ta’dil. Karena itu, mayoritas ulama tidak menjadikannya sebagai dalil utama dalam menetapkan keutamaan khusus tentang tidur saat berpuasa. Dalam kaidah ilmu hadist, riwayat yang lemah tidak bisa dijadikan hujjah dalam penetapan hukum, apalagi jika bertentangan dengan semangat umum syariat.

Meski demikian, bukan berarti tidur saat puasa tidak bernilai sama sekali. Dalam Islam, setiap aktivitas mubah yang disertai niat baik dapat bernilai ibadah. Jika seseorang tidur untuk menjaga stamina agar kuat beribadah, menghindari maksiat, atau menjaga diri dari perbuatan sia-sia, maka tidurnya dapat bernilai pahala karena niatnya. Hal ini selaras dengan sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Namun perlu dipahami, puasa bukanlah ibadah pasif. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183 bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai derajat takwa. Takwa tentu tidak diraih dengan bermalas-malasan sepanjang hari. Justru Ramadhan adalah momentum memperbanyak tilawah, dzikir, sedekah, dan qiyamul lail. Nabi Muhammad SAW sendiri adalah sosok yang paling dermawan dan paling giat beribadah saat Ramadhan.

Karena itu, memahami hadist “tidurnya orang puasa adalah ibadah” secara tekstual tanpa melihat derajat dan konteksnya bisa menyesatkan semangat ibadah. Tidur secukupnya adalah kebutuhan jasmani, tetapi menjadikan tidur sebagai aktivitas utama saat puasa jelas bertentangan dengan teladan Rasulullah SAW. Islam adalah agama yang seimbang, tidak berlebihan dalam bekerja, namun juga tidak tenggelam dalam kemalasan.

Kesimpulannya, hadist tentang tidurnya orang puasa berpahala memang ada, tetapi derajatnya lemah. Tidur tetap bernilai pahala jika diniatkan untuk kebaikan dan mendukung ibadah. Namun Ramadhan bukan bulan untuk memperbanyak tidur, melainkan bulan untuk memperbanyak amal saleh. Di sinilah kaum Muslimin dituntut bijak: memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar puasa benar-benar mengantarkan pada derajat takwa yang dijanjikan Allah SWT.