• KEISLAMAN

Makan Kurma Ganjil Saat Berbuka, Adakah Tuntunan Rasulullah?

Yahya Sukamdani | Jum'at, 20/02/2026
Makan Kurma Ganjil Saat Berbuka, Adakah Tuntunan Rasulullah? Ilustrasi orang berbuka puasa dengan kurma (Foto: Kompas)

Terasmuslim.com - Dalam tradisi kaum Muslimin, berbuka puasa dengan kurma telah menjadi amalan yang sangat dikenal. Namun, muncul pertanyaan di tengah masyarakat: apakah makan kurma dengan jumlah ganjil memiliki tuntunan langsung dari Rasulullah SAW? Pertanyaan ini penting agar ibadah tidak sekadar menjadi tradisi, tetapi berdasar dalil yang sahih dan pemahaman yang benar.

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Anas bin Malik disebutkan bahwa Rasulullah SAW biasa berbuka dengan ruthab (kurma basah) sebelum shalat. Jika tidak ada, beliau berbuka dengan kurma kering, dan jika tidak ada, beliau meminum beberapa teguk air. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dinilai hasan shahih oleh para ulama. Dari riwayat ini, jelas bahwa berbuka dengan kurma adalah sunnah yang kuat.

Adapun secara khusus tentang jumlah ganjil, terdapat riwayat dari Anas bin Malik bahwa Nabi SAW memakan kurma dalam jumlah ganjil. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau makan tiga, lima, atau lebih dalam hitungan ganjil sebelum berangkat shalat Id. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya. Ini menunjukkan bahwa kebiasaan makan kurma ganjil memiliki dasar dari sunnah Nabi SAW.

Lebih jauh lagi, Islam memang mencintai bilangan ganjil. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Witir (ganjil) dan menyukai yang ganjil.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Konsep ganjil (witir) bukan sekadar angka, tetapi mencerminkan kesempurnaan tauhid, karena Allah Maha Esa. Maka, mengerjakan amalan dalam jumlah ganjil termasuk bentuk ittiba’ (mengikuti) yang dicintai.

Namun demikian, para ulama menjelaskan bahwa makan kurma dalam jumlah ganjil bukanlah kewajiban, melainkan sunnah dan bentuk mengikuti kebiasaan Rasulullah SAW. Tidak berdosa bagi yang makan dalam jumlah genap, tetapi menghidupkan sunnah tentu lebih utama. Dalam hal ini, yang terpenting adalah niat untuk meneladani Nabi SAW, bukan sekadar simbol angka tanpa pemahaman.

Maka, dapat disimpulkan bahwa makan kurma dalam jumlah ganjil memiliki landasan dari hadits yang shahih, terutama dalam konteks berbuka dan sebelum shalat Id. Bagi kaum Muslimin yang ingin menyempurnakan ibadahnya, mengikuti sunnah yang tampak sederhana seperti ini adalah bukti kecintaan kepada Rasulullah SAW. Sebab, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau, dan dalam perkara kecil sekalipun terdapat keberkahan besar bagi yang mengamalkannya dengan ilmu dan keikhlasan.