Ilustrasi keluarga besar
Terasmuslim.com - Di tengah masyarakat, sering muncul anggapan bahwa rezeki suami akan lancar jika istri taat. Islam memang mengajarkan ketaatan dan keharmonisan rumah tangga, namun rezeki tidak sesederhana hubungan sebab-akibat satu pihak saja. Rezeki adalah ketetapan Allah, yang dipengaruhi oleh iman, usaha, doa, dan ketakwaan seluruh anggota keluarga.
Allah menegaskan bahwa rezeki datang dari Allah semata, bukan dari manusia. “Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki.” (QS. Adz-Dzariyat: 58). Ayat ini meluruskan bahwa kelancaran rezeki bukan hasil ketaatan seseorang kepada pasangan, melainkan buah dari ketaatan kepada Allah.
Namun Islam juga mengajarkan bahwa ketaatan dan akhlak baik dalam rumah tangga mendatangkan keberkahan. Allah berfirman: “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan limpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96). Keimanan dan ketakwaan istri sebagaimana suami berkontribusi pada suasana rumah tangga yang penuh doa, ketenangan, dan keberkahan rezeki.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ketaatan istri adalah ibadah besar, tetapi tidak pernah menyebutnya sebagai satu-satunya kunci rezeki suami. Beliau bersabda: “Jika seorang wanita menjaga shalatnya, berpuasa Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya (dalam kebaikan), maka ia masuk surga.” (HR. Ahmad). Hadis ini menekankan pahala dan keselamatan akhirat, bukan jaminan materi dunia.
Sebaliknya, Islam menegaskan bahwa usaha dan tanggung jawab suami sangat menentukan rezekinya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Seseorang tidak memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari). Ini menunjukkan bahwa rezeki suami lebih erat dengan ikhtiar, kejujuran, dan tawakalnya kepada Allah.
Islam juga memperingatkan agar rezeki tidak dijadikan alat menyalahkan pasangan. Allah berfirman: “Dan janganlah sebagian kamu menyalahkan sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32). Rumah tangga bukan ruang saling menekan, melainkan tempat saling menguatkan dalam ketaatan kepada Allah.
Kesimpulannya, rezeki suami tidak identik dengan ketaatan istri, tetapi ketaatan istri dan suami kepada Allah sama-sama menjadi sebab turunnya keberkahan. Ketika keduanya saling menunaikan hak, menjaga iman, dan memperbanyak doa, maka rezeki baik lapang maupun sempit akan bernilai ibadah dan membawa ketenangan.