Ilustrasi foto pamer harta di sosial media
Terasmuslim.com - Banyak orang menganggap bahwa memiliki kekayaan melimpah merupakan tolok ukur utama untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia.
Secara kasat mata, harta benda memang dapat memberikan kemudahan materi serta memenuhi berbagai kebutuhan fisik manusia sehari-hari.
Namun, Islam menegaskan bahwa kekayaan materi yang melimpah tidak serta-merta menjamin ketenangan jiwa dan kebahagiaan yang hakiki.
Kebahagiaan sejati (as-sa`adah) dalam pandangan Islam bersumber dari hati yang senantiasa bersyukur dan merasa cukup (qana`ah).
Rasulullah SAW menjelaskan hakikat kekayaan sejati dalam hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim: "Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, melainkan kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa."
Harta yang menumpuk justru berpotensi menjadi beban berat dan memicu rasa cemas jika tidak dikelola dengan landasan iman.
Tanpa adanya rasa cukup, seorang manusia akan selalu merasa kurang dan terus mengejar kenikmatan duniawi tanpa batas.
Allah SWT mengingatkan bahaya penumpukan harta dalam Surah At-Takasur ayat 1-2: "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur."
Islam tidak melarang pemeluknya untuk menjadi orang kaya, selama harta tersebut diperoleh secara halal dan dipergunakan di jalan Allah SWT.
Harta akan mendatangkan kebahagiaan dan kebaikan yang berlimpah apabila disalurkan untuk zakat, sedekah, serta membantu sesama.
Sebaliknya, harta yang diperoleh dari cara haram atau digunakan untuk bermewah-mewahan secara berlebihan hanya akan mendatangkan penyesalan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kahf ayat 46: "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan."
Mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ibadah dan zikir merupakan satu-satunya jalan untuk memperoleh ketenangan hati yang sejati.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Ar-Ra`d ayat 28: "Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram."
Oleh karena itu, kejarlah kekayaan hati dan ketakwaan agar harta yang kita miliki menjadi sarana meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.