Ilustrasi foto tauhid
Terasmuslim.com - Atheisme tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan bermula dari pergeseran filsafat Yunani Kuno yang meragukan keberadaan Pencipta.
Sejak era Epikuros, gagasan materi sebagai pusat segalanya mulai mengikis kesadaran fitrah manusia akan keagungan Tuhan.
Al-Qur`an menggambarkan keraguan orang-orang kafir ini dalam Surah At-Tur ayat 35: "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan?"
Ketidakmampuan akal rasionalis yang mengagungkan materi membuat mereka menolak hal-hal gaib yang di luar jangkauan panca indra.
Pada era Pencerahan di Eropa (Enlightenment), kekecewaan terhadap institusi gereja melahirkan paham sekularisme yang makin menjauhkan dogma agama.
Para filsuf seperti Friedrich Nietzsche kemudian mengumandangkan penolakan mutlak terhadap keberadaan Sang Pencipta dalam diskursus modern.
Islam mengajarkan bahwa meyakini Pencipta adalah fitrah mendasar yang telah ditanamkan ke dalam jiwa setiap manusia sejak lahir.
Rasulullah SAW bersabda: "Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi" (HR. Bukhari).
Paham atheisme kemudian berkembang menjadi bentuk materialism saintifik yang menganggap alam semesta terjadi secara kebetulan semata.
Pandangan ini secara tegas dibantah dalam Surah Al-Anbiya ayat 30 yang mengingatkan keteraturan ciptaan Allah di langit dan bumi.
Sains modern yang objektif sebenarnya justru memperlihatkan keharmonisan alam semesta yang mustahil berdiri tanpa perancang Yang Mahakuasa.
Surah Ali `Imran ayat 190 meyakinkan bahwa tanda-tanda kebesaran Allah sangat jelas bagi orang-orang yang mau menggunakan akalnya.
Islam tidak melarang manusia berpikir kritis, melainkan mengarahkan akal agar menemukan kebenaran hakiki melalui tadabbur alam.
Fenomena atheisme menjadi pengingat bagi umat Islam untuk memperkuat pemahaman akidah yang lurus di tengah arus modernitas.
Edukasi tauhid yang mantap sejak dini adalah benteng utama untuk menjaga generasi dari pemikiran yang meragukan keberadaan Allah SWT.