Ilustrasi foto percakapan di sosial media
Terasmuslim.com - Kemudahan berinteraksi di era digital sering kali membuat seseorang tidak sadar telah melakukan perbuatan ghibah melalui pesan singkat.
Grup percakapan di aplikasi WhatsApp kini kerap menjadi tempat membicarakan aib dan keburukan orang lain secara terbuka.
Dalam ajaran Islam, batasan ghibah tidak pernah terbatas pada lisan secara langsung, melainkan mencakup tulisan dan media digital.
Al-Qur`an menggambarkan perbuatan membicarakan aib sesama sebagai tindakan yang sangat menjijikkan dan melanggar kehormatan.
Allah SWT berfirman: "Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain; adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya." (QS. Al-Hujurat [49]: 12).
Ketentuan hukum ghibah berlaku sama, baik diucapkan secara langsung maupun diketik melalui pesan teks di ruang obrolan digital.
Rasulullah SAW telah memberikan definisi yang sangat jelas mengenai hakikat ghibah yang wajib dihindari oleh setiap muslim.
Rasulullah SAW bersabda: "Tahukah kalian apa itu ghibah? Para sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui; Beliau bersabda: `Engkau menyebutkan sesuatu tentang saudaramu yang tidak disukainya.`" (HR. Muslim).
Membaca, merespons, atau sekadar membiarkan pembicaraan ghibah di grup WhatsApp tanpa menegurnya juga menjadikan seseorang terlibat dalam dosa tersebut.
Ruang digital justru memiliki daya sebar yang lebih luas sehingga potensi dampak buruk dari fitnah dan ghibah menjadi jauh lebih besar.
Al-Qur`an mengingatkan bahwa setiap ketukan jari dan tulisan kita di media sosial tetap dicatat oleh malaikat secara cermat.
Allah SWT berfirman: "Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS. Qaf [50]: 18).
Seorang muslim yang bijak seharusnya menggunakan grup WhatsApp sebagai sarana menyebar kebaikan dan mempererat tali silaturahmi.
Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim).
Meninggalkan grup yang penuh pergunjingan atau mengingatkan anggota grup secara santun adalah bentuk menjaga kesucian hati di era digital.