• KEISLAMAN

Kunci Imam Masjid Hadapi Kritik Jamaah Secara Bijak

Yahya Sukamdani | Jum'at, 17/07/2026
Kunci Imam Masjid Hadapi Kritik Jamaah Secara Bijak Ilustrasi foto jamaah dan imam masjid

Menjadi seorang imam masjid berarti siap berdiri di garda terdepan pelayanan umat yang tentu tidak luput dari perhatian dan penilaian jamaah.

Dalam dinamika pengelolaan masjid, kritik dari jamaah terkait bacaan shalat, khutbah, hingga kebijakan syiar merupakan hal yang lumrah terjadi.

Terasmuslim.com - Menghadapi situasi tersebut, seorang imam dituntut memiliki kelapangan dada dan kematangan emosi agar tidak terjebak dalam sikap defensif yang merusak ukhuwah.

Al-Qur`an Surat Ali `Imran ayat 159 telah memberikan panduan agung tentang pentingnya bersikap lemah lembut dan memaafkan dalam menghadapi sesama.

"Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu..." (QS. Ali `Imran: 159)

Rasulullah SAW juga memberikan teladan terbaik mengenai kesabaran tingkat tinggi ketika menerima masukan atau bahkan protes dari para sahabatnya.

Berdasarkan hadits riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW selalu mendengarkan keluhan umat dengan tenang dan menyelesaikannya dengan penuh keadilan serta hikmah.

"Sesungguhnya pada diri kamu terdapat dua sifat yang dicintai oleh Allah, yaitu santun (tidak tergesa-gesa) dan tenang (tidak mudah marah)." (HR. Bukhari)

Di Indonesia, sikap profesionalisme imam dalam menghadapi dinamika sosial jamaah ini sejalan dengan regulasi Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor DJ.II/802 Tahun 2014.

Peraturan tersebut menegaskan bahwa standar kompetensi imam masjid tidak hanya mencakup aspek keagamaan, tetapi juga kompetensi sosial dan kepemimpinan yang adaptif.

Melalui regulasi kemasjidan ini, pemerintah mendorong para imam untuk membuka ruang tabayun (klarifikasi) yang sehat melalui forum musyawarah takmir.

Kritik yang disampaikan oleh jamaah seyogianya dipandang sebagai bahan evaluasi konstruktif untuk meningkatkan kualitas pelayanan ibadah secara berkelanjutan.

Apabila kritik yang datang dirasa kurang santun, imam yang bijaksana akan membalasnya dengan edukasi yang santun tanpa bermaksud menggurui atau membalas dendam.

Sinergi komunikasi yang harmonis antara imam, takmir, dan jamaah akan menciptakan atmosfer masjid yang kondusif serta jauh dari perpecahan.

Pada akhirnya, kesabaran seorang imam dalam mengelola kritik akan menaikkan derajat spiritualnya sekaligus memperkokoh persatuan umat di lingkungan masjid.