• KEISLAMAN

Bergelimang Harta Tapi Hati Hampa? Ini Alasan Spiritual Mengapa Anda Tetap Gelisah

Yahya Sukamdani | Minggu, 17/05/2026
Bergelimang Harta Tapi Hati Hampa? Ini Alasan Spiritual Mengapa Anda Tetap Gelisah Ilustrasi foto gelisah karena harta

Terasmuslim.com - Banyak manusia modern yang terjebak dalam teka-teki kehidupan, di mana seluruh fasilitas duniawi telah terpenuhi namun batinnya tetap merasa hampa dan kering.

Mereka mengira bahwa tumpukan harta, jabatan yang mentereng, dan popularitas tinggi otomatis akan mendatangkan kebahagiaan serta ketenangan jiwa yang hakiki.

Namun kenyataannya, banyak orang kaya yang justru harus ketergantungan pada obat tidur atau hiburan malam demi melupakan kegelisahan yang terus melanda hati mereka.

Secara spiritual, rasa gelisah yang tidak kunjung hilang tersebut merupakan sinyal kuat bahwa ruhani seseorang sedang mengalami malanutrisi karena jauh dari Sang Pencipta.

Allah SWT telah memberikan jawaban pasti atas fenomena ini dalam Al-Quran Surat Thaha ayat 124 yang berbunyi, "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit."

Ayat tersebut menegaskan bahwa kesempitan yang dimaksud bukanlah rontoknya harta benda, melainkan hilangnya rasa damai dan lapang di dalam dada manusia.

Faktor lain yang membuat hati tetap gelisah adalah sifat serakah yang membuat manusia selalu merasa kurang dan tidak pernah puas dengan apa yang ada.

Rasulullah SAW telah memprediksi penyakit mental ini melalui sabdanya, "Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia akan mencari lembah yang ketiga." (HR. Bukhari).

Ketika fokus hidup hanya tertuju pada dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan membayang di pelupuk matanya setiap saat.

Sebaliknya, ketenangan batin yang sejati hanya akan tercipta ketika seorang hamba mau meluangkan waktu untuk bersujud dan berzikir mengingat kebesaran Allah.

Janji ketenangan ini tertulis indah dalam Al-Quran Surat Ar-Ra`d ayat 28 yang menegaskan, "Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."

Oleh karena itu, kecukupan materi yang tidak dibarengi dengan rasa syukur dan kedekatan kepada Allah hanya akan berujung pada penderitaan batin yang tiada akhir.

Kekayaan yang sejati bukanlah diukur dari banyaknya aset atau properti, melainkan dari kekayaan jiwa yang selalu merasa cukup dengan ketetapan takdir-Nya.

Sesuai dengan sabda Nabi SAW, "Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta banyolan, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa." (HR. Muslim).

Mari kita audit kembali arah hidup ini dan mulailah mengisi relung hati yang kosong dengan ibadah serta zikir agar kegelisahan itu sirna berganti kedamaian.