Terasmuslim.com - Perasaan hidup “begini-begini saja” sering datang saat hati jauh dari makna. Dalam Islam, hidup bukan sekadar rutinitas dunia, tetapi perjalanan menuju akhirat. Allah SWT menegaskan bahwa tujuan penciptaan manusia bukan untuk hampa arah, melainkan untuk beribadah: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ketika orientasi hidup bergeser dari ibadah kepada sekadar pencapaian dunia, maka kehampaan mudah menyelinap.
Rasa stagnan juga bisa menjadi bentuk ujian. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 155 bahwa manusia pasti diuji dengan rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Ujian bukan tanda kegagalan, tetapi cara Allah mengangkat derajat hamba-Nya. Dalam kaca mata iman, fase “diam di tempat” bisa jadi adalah masa pembentukan sabar, syukur, dan keteguhan.
Sering kali, perasaan hidup tak berkembang muncul karena hati kurang terhubung dengan dzikir dan syukur. Allah menegaskan: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ketenteraman bukan hasil banyaknya materi, tetapi kuatnya relasi dengan Rabb. Boleh jadi secara dunia terlihat biasa saja, namun di sisi Allah nilainya luar biasa jika dijalani dengan ikhlas.
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa ukuran keberuntungan bukanlah banyaknya harta, melainkan kaya hati. Dalam hadits riwayat Sahih Muslim disebutkan: “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.” Maka boleh jadi hidup tampak sederhana, namun jika hati lapang dan ridha, itulah kekayaan sejati.
Selain itu, rasa “gini-gini aja” bisa jadi karena kita membandingkan hidup dengan orang lain. Padahal Nabi SAW bersabda agar melihat kepada yang di bawah dalam urusan dunia agar tidak meremehkan nikmat Allah (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim). Perbandingan yang salah hanya melahirkan keluh kesah. Syukur justru membuka pintu tambahan nikmat, sebagaimana janji Allah dalam QS. Ibrahim: 7.
Akhirnya, hidup terasa stagnan ketika tujuan akhir dilupakan. Dunia hanyalah persinggahan. Allah berfirman dalam QS. Al-Ankabut: 64 bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya. Maka, jika hari-hari kita diisi dengan shalat, dzikir, sedekah, dan amal saleh meski sederhana sebenarnya hidup tidak pernah “gini-gini aja”. Ia sedang bergerak menuju keabadian.


































