• SOSOK

Ekspedisi Iman Salman Al-Farisi, Perjalanan Panjang Sang Pencari Kebenaran

Yahya Sukamdani | Selasa, 12/05/2026
Ekspedisi Iman Salman Al-Farisi, Perjalanan Panjang Sang Pencari Kebenaran Ilustrasi foto Salman Al-Farisi pergi untuk bertemu sang Nabi (Foto: Ist)

Terasmuslim.com - Salman Al-Farisi lahir di Persia dari keluarga terpandang yang sangat taat menyembah api sebagai penganut Majusi.

Ketidakpuasan batinnya terhadap ajaran nenek moyang mendorongnya untuk meninggalkan kemewahan demi mencari agama yang lurus.

Perjalanan panjang ia tempuh dari Persia menuju Syam untuk mempelajari ajaran Nasrani yang saat itu ia anggap lebih baik.

Ia berpindah dari satu pendeta ke pendeta lain, menunjukkan keteguhan hati yang tak tergoyahkan dalam mencari kebenaran hakiki.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ankabut ayat 69 bahwa Dia akan menunjukkan jalan bagi mereka yang bersungguh-sungguh mencari-Nya.

Sesaat sebelum wafat, guru terakhirnya memberikan isyarat tentang munculnya seorang Nabi di tanah Arab yang memiliki sifat-sifat khusus.

Ciri tersebut meliputi sifat tidak memakan sedekah, mau menerima hadiah, dan memiliki tanda kenabian di antara kedua pundaknya.

Demi mencapai tanah yang dijanjikan, Salman rela ditipu hingga dijual sebagai budak dan dibawa menuju lembah Yatsrib atau Madinah.

Penderitaan sebagai budak di bawah terik matahari tidak sedikit pun melunturkan semangatnya untuk menunggu kedatangan Sang Nabi.

Saat Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, Salman segera melakukan pengujian terhadap tiga ciri kenabian yang telah ia pelajari sebelumnya.

Setelah melihat kebenaran pada diri Rasulullah SAW, ia pun bersujud dan memeluk Islam dengan penuh linangan air mata haru.

Rasulullah SAW sangat mencintainya hingga bersabda dalam sebuah hadist: "Salman adalah bagian dari kami, Ahlul Bait (keluarga Nabi)." (HR. Thabrani).

Salman kemudian menjadi arsitek strategi perang yang brilian dengan mengusulkan pembuatan parit dalam Perang Khandaq.

Kisah hidupnya membuktikan bahwa hidayah Allah akan menjemput siapa saja yang memiliki kejujuran dalam mencari kebenaran sejati.

Hingga akhir hayatnya sebagai gubernur, Salman tetap hidup zuhud dan sederhana, cerminan nyata dari seorang pencari Tuhan yang telah sampai ke tujuan.