• SOSOK

Kelembutan Rasulullah, Meneladani Sifat Penyayang Nabi dalam Keseharian

Yahya Sukamdani | Selasa, 12/05/2026
Kelembutan Rasulullah, Meneladani Sifat Penyayang Nabi dalam Keseharian Ilustrasi foto kisah inspiratif Rasulullah (Foto: Pexels/Necati Ömer Karpuzoğlu)

Terasmuslim.com - Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang diutus oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta tanpa terkecuali.

Kehidupan sehari-hari beliau senantiasa dipenuhi dengan pancaran kasih sayang, baik kepada keluarga, sahabat, bahkan kepada musuh-musuhnya.

Dalam Al-Qur`an, Allah SWT menegaskan kemuliaan akhlak beliau melalui firman-Nya dalam Surah Al-Anbiya ayat 107 yang berbunyi: "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam."

Sifat penyayang ini bukanlah sekadar teori, melainkan praktik nyata yang beliau tunjukkan dalam setiap interaksi sosial yang dilakukan.

Beliau dikenal sangat lembut terhadap anak-anak, bahkan seringkali memperlama sujudnya saat cucu beliau naik ke punggungnya.

Rasulullah SAW pernah bersabda dalam sebuah hadits: "Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua." (HR. Tirmidzi).

Di dalam rumah tangga, beliau adalah suami yang paling baik dan tidak segan membantu pekerjaan domestik untuk meringankan beban istrinya.

Ketulusan hati beliau juga terlihat saat beliau tetap menyuapi seorang pengemis buta yang setiap hari mencaci maki dirinya di sudut pasar.

Beliau mengajarkan bahwa kemarahan tidak harus dibalas dengan amarah, melainkan dengan doa dan kelembutan yang mampu melunakkan hati.

Rasulullah SAW juga sangat memperhatikan hak-hak hewan, melarang umatnya menyiksa binatang atau membebani mereka di luar batas kemampuan.

Dalam sebuah riwayat, beliau bersabda: "Sayangilah makhluk yang ada di bumi, maka yang di langit akan menyayangimu." (HR. Abu Dawud).

Kedermawanan beliau tidak terbatas pada materi, tetapi juga melalui senyuman dan tutur kata yang selalu menyejukkan hati pendengarnya.

Meskipun memiliki kedudukan tertinggi sebagai pemimpin umat, beliau tetap hidup sederhana dan sangat mudah ditemui oleh rakyat kecil.

Dunia menyaksikan bahwa kepemimpinan beliau dibangun di atas pondasi cinta, keadilan, dan empati yang sangat mendalam bagi kemanusiaan.

Meneladani sifat penyayang Rasulullah dalam keseharian adalah kunci utama untuk menciptakan kedamaian dan harmoni di tengah keberagaman dunia saat ini.