Ilustrasi foto gibah
Terasmuslim.com - Dalam Islam, perkataan bukanlah hal sepele. Banyak maksiat justru bermula dari lisan yang tidak dijaga. Allah SWT mengingatkan bahwa setiap ucapan manusia berada dalam pengawasan-Nya. Firman Allah: “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat” (QS. Qaf: 18). Ayat ini menunjukkan bahwa kata-kata yang keluar dari lisan dapat menjadi sebab pahala atau dosa.
Sering kali maksiat menyusup lewat perkataan ringan yang dianggap biasa, seperti ghibah, dusta, fitnah, dan ucapan kasar. Padahal, Allah SWT melarang keras perbuatan tersebut. Dalam Al-Qur’an disebutkan: “Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain” (QS. Al-Hujurat: 12). Ucapan yang melukai kehormatan orang lain termasuk dosa besar meskipun tidak melibatkan perbuatan fisik.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa keselamatan seorang hamba sangat bergantung pada lisannya. Beliau bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa diam sering kali lebih selamat daripada berbicara tanpa kendali yang dapat menyeret seseorang kepada maksiat.
Bahkan, banyak orang terjerumus ke dalam neraka bukan karena besarnya amal maksiat fisik, tetapi karena lisannya. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berasal dari lisannya” (HR. Thabrani). Perkataan yang meremehkan dosa, menyebarkan kebencian, atau menormalisasi kemaksiatan dapat menumpulkan hati dan menjauhkan seseorang dari rahmat Allah.
Maksiat melalui perkataan juga bisa menjadi pintu bagi dosa-dosa lain. Ucapan rayuan dapat mengantarkan pada zina, ejekan memicu permusuhan, dan provokasi memecah persatuan. Karena itu, Allah SWT memerintahkan kaum beriman agar berkata benar dan lurus: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar” (QS. Al-Ahzab: 70).
Menjaga lisan adalah bentuk ketakwaan yang nyata. Dengan membiasakan ucapan yang baik, dzikir, dan nasihat yang benar, seorang muslim dapat menutup pintu maksiat yang sering kali datang tanpa disadari. Lisan yang terjaga bukan hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga menjaga kehormatan orang lain dan menciptakan ketenangan dalam kehidupan bermasyarakat.