• KEISLAMAN

Menjaga Lisan, Benteng Kokoh Keselamatan Ukhuwah di Era Digital

Yahya Sukamdani | Kamis, 07/05/2026
Menjaga Lisan, Benteng Kokoh Keselamatan Ukhuwah di Era Digital Ilustrasi hubungan antar muslim

Terasmuslim.com - Lisan adalah nikmat Tuhan yang sangat besar sekaligus pedang bermata dua bagi pemiliknya.

Satu ucapan lembut mampu menyejukkan hati, namun satu kata kasar bisa menghancurkan silaturahmi yang telah lama dibina.

Dalam kacamata syariat, menjaga lisan bukan sekadar etika, melainkan manifestasi dari keimanan seseorang.

Allah SWT telah menegaskan pengawasan ketat terhadap setiap kata yang keluar melalui firman-Nya dalam Surah Qaf ayat 18.

"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir," merupakan pengingat agar kita senantiasa waspada.

Rasulullah SAW juga memberikan standar kualitas diri seorang Muslim melalui kendali atas bicaranya.

Sebagaimana hadits riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."

Diam dalam konteks ini bukan berarti pasif, melainkan sebuah filter cerdas untuk menyaring kalimat yang tidak bermanfaat.

Ujian "orang ketiga" dalam hubungan sering kali bermula dari lisan yang gemar menggunjing atau menyebar fitnah (namimah).

Penyebaran informasi tanpa tabayyun (klarifikasi) dapat merusak reputasi seseorang dan memicu perpecahan sosial yang masif.

Syariat mengajarkan bahwa menjaga lisan adalah bentuk perlindungan diri dari api neraka yang sangat dahsyat.

Rasulullah SAW pernah memperingatkan bahwa banyak orang tersungkur ke neraka akibat "buah ranum" dari lisan mereka sendiri.

Oleh karena itu, setiap Muslim dituntut untuk selalu berpikir sebelum berucap agar tidak ada hati yang terluka.

Keselamatan dalam hubungan sosial hanya bisa dicapai jika kita mengutamakan kejujuran dan kelembutan dalam berkomunikasi.

Mari kita jadikan lisan sebagai sarana dakwah dan penyebar kedamaian demi meraih rida Allah SWT di dunia dan akhirat.