• KEISLAMAN

Apa Itu Mazhab? Ini Penjelasan yang Sering Disalahpahami

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Kamis, 10/07/2025
Apa Itu Mazhab? Ini Penjelasan yang Sering Disalahpahami Ilustrasi - mazhab Hanafi (Foto: Kompas)

Jakarta, Terasmuslim.com - Istilah mazhab sering terdengar dalam diskusi keagamaan, baik di masjid, media sosial, maupun dalam ceramah-ceramah keislaman.

Namun, tak sedikit umat Islam yang salah memahami apa sebenarnya arti mazhab, hingga muncul anggapan keliru bahwa berbeda mazhab berarti berbeda agama, atau bahkan sesat.

Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, mazhab bukanlah agama baru, melainkan metode atau pendekatan dalam memahami syariat Islam berdasarkan sumber utama, yakni Al-Qur`an dan Hadis.

Kata mazhab secara bahasa berasal dari bahasa Arab madhhab (مَذْهَب) yang berarti "jalan atau aliran pemikiran". Dalam konteks fikih (hukum Islam), mazhab merujuk pada cara para ulama dalam menyimpulkan hukum dari dalil-dalil syariat.

Ada empat mazhab utama dalam Islam Sunni, yaitu:

1. Mazhab Hanafi, dipelopori oleh Imam Abu Hanifah

2. Mazhab Maliki, oleh Imam Malik bin Anas

3. Mazhab Syafi’i, oleh Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i

4. Mazhab Hanbali, oleh Imam Ahmad bin Hanbal

Keempatnya tidak bertentangan, tetapi berbeda dalam metode istinbat (penggalian hukum), seperti cara memahami hadis yang tampaknya bertentangan, atau dalam menafsirkan lafaz yang umum.

Perbedaan mazhab muncul karena ragam pendekatan ilmiah terhadap dalil. Misalnya, ketika suatu ayat atau hadis bisa dimaknai secara luas, atau ketika satu riwayat memiliki banyak versi.

Ulama dari masing-masing mazhab menggunakan keahlian dan metode mereka untuk menentukan mana yang lebih kuat atau relevan.

Perbedaan ini tidak lantas menjadi permusuhan, karena di antara para imam mazhab sendiri saling menghormati. Imam Syafi’i bahkan pernah berkata.

“Pendapatku benar tapi mungkin salah. Pendapat orang lain salah tapi mungkin benar.”

Sayangnya, di tengah masyarakat, masih ada yang menyalahkan sesama Muslim hanya karena berbeda mazhab.

Tak jarang, muncul tuduhan menyimpang atau bahkan bid’ah terhadap orang yang menjalankan ibadah dengan cara yang sedikit berbeda—padahal itu bagian dari ijtihad mazhab.

Mengikuti salah satu mazhab bukanlah kewajiban mutlak, tapi disarankan agar umat Islam memiliki pedoman dalam beribadah, sehingga tidak meraba-raba sendiri hukum agama.

Mazhab memberikan struktur dalam memahami halal-haram, tata cara ibadah, hingga muamalah (interaksi sosial). Namun, bukan berarti orang awam harus fanatik membabi buta.

Jika ada perbedaan dalam praktik, seperti cara salam dalam sholat atau tata cara wudhu, maka selama punya dasar dari dalil sahih dan ulama mujtahid, itu sah-sah saja.

 

Keywords :