Ilustrasi Sunni dan Syiah (Foto: AI)
Terasmuslim.com - Dalam wacana keislaman global, istilah Sunni sering muncul untuk membedakan satu mazhab atau golongan dengan yang lain. Namun, tak sedikit umat Muslim sendiri yang belum sepenuhnya memahami apa makna Sunni dan bagaimana sejarahnya berkembang.
Secara umum, Sunni merujuk pada umat Islam yang mengikuti ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah, yaitu mereka yang berpegang teguh pada Al-Qur’an, sunnah Nabi Muhammad ﷺ, dan konsensus para ulama. Sunni adalah kelompok mayoritas dalam dunia Islam, yang diyakini mencakup lebih dari 85 persen umat Muslim di seluruh dunia, termasuk mayoritas besar di Indonesia.
Asal mula istilah ini berkaitan erat dengan perselisihan sepeninggal Nabi Muhammad ﷺ, terutama dalam hal kepemimpinan umat. Sunni berpendapat bahwa pemimpin atau khalifah bisa dipilih dari kalangan sahabat yang memenuhi syarat, dan tidak harus berasal dari keturunan Nabi. Pandangan ini membedakan mereka dari kelompok Syiah yang berkeyakinan bahwa kepemimpinan hanya sah jika berasal dari keturunan Ali bin Abi Thalib.
Dalam praktik keagamaan, umat Sunni mengikuti empat mazhab fikih utama yang sah dan saling menghormati: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Di Indonesia, mayoritas umat Islam menganut mazhab Syafi’i, baik dalam urusan ibadah maupun hukum sehari-hari.
Sunni juga sangat menghormati para sahabat Nabi, termasuk Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Tidak ada pengkultusan berlebihan, tapi juga tidak ada celaan terhadap tokoh-tokoh generasi awal Islam yang berjasa dalam menyebarkan ajaran Rasulullah.
Perbedaan antara Sunni dan Syiah memang cukup menonjol dalam aspek akidah dan sejarah, namun pada dasarnya keduanya sama-sama mengimani rukun Islam dan rukun iman. Tantangannya hari ini adalah menjaga dialog dan persaudaraan di tengah perbedaan, serta menghindari konflik sektarian yang justru merugikan umat Islam sendiri.
Sebagai kelompok mayoritas, Sunni telah melahirkan banyak tokoh penting dalam sejarah peradaban Islam. Dari ulama fikih seperti Imam Syafi’i, ahli hadis seperti Imam Bukhari, hingga tokoh tasawuf seperti Al-Ghazali dan Abdul Qadir al-Jilani.
Menjadi Sunni bukan hanya tentang identitas, tetapi juga tentang komitmen terhadap moderasi, toleransi, dan keseimbangan dalam beragama. Ahlus Sunnah wal Jamaah mengajarkan bahwa jalan tengah adalah pilihan terbaik, jauh dari fanatisme, ekstremisme, maupun penyimpangan.