Ilustrasi (Foto: kumparan)
Terasmuslim.com - Di balik lantunan azan yang menggetarkan jiwa dari Masjidil Haram, terdapat kisah pengabdian luar biasa dari para muadzin yang bertugas di tempat suci ini. Mereka bukan hanya sekadar pengumandang seruan sholat, melainkan penjaga semangat iman bagi jutaan umat Islam di seluruh dunia.
Masjidil Haram, dengan Ka`bah sebagai pusatnya, menjadi tempat beribadah yang selalu dipadati jamaah dari berbagai belahan dunia. Suara azan yang berkumandang dari masjid ini mampu menggetarkan hati dan membangkitkan kerinduan untuk segera memenuhi panggilan Allah.
Melansir dari kanal YouTube @islamitumenakjubkan, muncul pertanyaan menarik di kalangan masyarakat: berapa sebenarnya gaji para muadzin di Masjidil Haram? Jawabannya tidak hanya mencengangkan secara nominal, tetapi juga menyentuh sisi spiritual.
Para muadzin Masjidil Haram dipandang sebagai penerus Bilal bin Rabah, sahabat Rasulullah SAW yang menjadi muadzin pertama dalam sejarah Islam. Menjadi muadzin di masjid ini bukanlah tugas biasa; ia memikul kehormatan dan amanah besar dari Allah SWT.
Untuk menjadi muadzin di Masjidil Haram, tidak sembarang orang bisa melamar. Ada kriteria ketat yang harus dipenuhi, termasuk kemampuan membaca Al-Qur`an dengan baik, hafalan Al-Qur`an, penguasaan tajwid, serta memiliki suara yang indah dan lantang.
Tak hanya itu, mereka juga harus berakhlak mulia, memahami hukum syariat Islam dengan baik, serta menjaga disiplin tinggi dalam melaksanakan tugas adzan tepat waktu.
Dengan tanggung jawab besar tersebut, pemerintah Arab Saudi memberikan penghargaan berupa gaji bulanan. Pada tahun 2025 ini, diketahui para muadzin di Masjidil Haram menerima gaji antara 2.000 hingga 3.000 riyal Saudi per bulan, atau setara dengan Rp8 juta hingga Rp12 juta.
Meski tergolong besar, banyak dari muadzin tersebut yang tidak menjadikan gaji sebagai tujuan utama. Beberapa bahkan memilih untuk menyumbangkan seluruh penghasilannya kepada yang lebih membutuhkan, menunjukkan bahwa tugas mereka adalah bentuk pengabdian, bukan sekadar pekerjaan duniawi.
Bagi para muadzin ini, azan bukan hanya panggilan sholat, ia adalah bentuk dakwah, seruan kasih sayang Allah kepada manusia, dan tugas suci yang harus dijalankan dengan penuh keikhlasan.
Ketulusan ini pula yang membuat banyak muadzin hidup dalam kesederhanaan. Mereka tidak mengejar popularitas atau kekayaan, melainkan hanya mencari ridha Allah SWT.
Suara azan dari Masjidil Haram yang mengalun ke seluruh dunia menjadi saksi atas keikhlasan para muadzin. Tidak sedikit jamaah yang mengaku tersentuh dan meneteskan air mata saat mendengarnya, merasa iman mereka diperbaharui setiap kali suara panggilan itu menggema.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa kemuliaan sejati tidak terletak pada materi, tetapi pada niat yang lurus dan pengabdian tulus kepada Allah dan sesama manusia.