• UMRAH & HAJI

Amalan Sunnah di Multazam yang Wajib Diketahui Jamaah Haji

M. Habib Saifullah | Selasa, 12/05/2026
Amalan Sunnah di Multazam yang Wajib Diketahui Jamaah Haji Kiblat umat Muslim, Kabah di Masjidil Haram, Mekkah (Foto:Kementerian Agama)

Terasmuslim.com - Bagi setiap Muslim yang menapakkan kaki di Masjidil Haram, menatap Ka’bah adalah puncak kerinduan.

Namun, di balik kemegahan bangunan kubus tersebut, terdapat satu titik yang diyakini sebagai tempat paling mustajab untuk memanjatkan doa, Multazam namanya.

Terletak di antara Pintu Ka’bah dan Hajar Aswad, Multazam bukan sekadar ruang sempit sepanjang kurang lebih dua meter. Ia adalah "terminal" pengaduan hamba kepada Sang Pencipta, di mana tangisan dan harapan tumpah ruah.

Disebutkan dalam satu riwayat hadis, Nabi SAW menempelkan dada, wajah, kedua lengan, serta membentangkan kedua telapak tangannya di tempat ini.

Melansir MUI, Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu pernah memperlihatkan bagaimana Nabi SAW melakukannya. Ia menempelkan dada, wajah, kedua lengan, dan membentangkan kedua telapak tangannya. Lalu ia berkata:

هكذا رَأيْتُ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَفعَلُه

Artinya: “Beginilah aku melihat Rasulullah SAW melakukannya.” (HR Abu Dawud)

Sementara Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan keutamaan tempat ini. Beliau mengatakan:

مَا بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْبَابِ يُدْعَى الْمُلْتَزَمَ لَا يَلْزَمُ مَا بَيْنَهُمَا أَحَدٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

Artinya: “Area antara rukun dan pintu Ka’bah disebut Multazam. Tidaklah seseorang berdoa kepada Allah di tempat itu meminta sesuatu, kecuali Allah akan memberinya.” (HR Baihaqi)

Pernyataan Ibnu Abbas tersebut menunjukkan betapa besarnya kemustajaban doa di Multazam. Karena itu, para jamaah haji dan umroh sejak dahulu banyak yang berusaha bisa berdoa di tempat ini, khususnya ketika hendak meninggalkan Makkah (thawaf wada’).

Dalam Al-Umm, Imam Syafi’i menyebutkan bahwa ketika thawaf perpisahan (wada’), seorang jamaah dianjurkan berdiri di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah lalu memanjatkan doa dengan penuh kerendahan hati. Imam Syafi’i mengatakan:

وَأُحِبُّ لَهُ إذَا وَدَّعَ الْبَيْتَ أَنْ يَقِفَ فِي الْمُلْتَزَمِ وَهُوَ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْبَابِ

“Dan aku menyukai bagi orang yang hendak berpisah meninggalkan Baitullah (thawaf wada`) agar ia berdiri di Multazam, yaitu tempat yang berada di antara rukun (Hajar Aswad) dan pintu Ka’bah.”

Imam Syafi’i lalu menganjurkan agar membaca doa berikut:

اللَّهُمَّ إنَّ الْبَيْتَ بَيْتُك وَالْعَبْدَ عَبْدُك وَابْنُ عَبْدِك وَابْنُ أَمَتِك حَمَلَتْنِي عَلَى مَا سَخَّرْت لِي مِنْ خَلْقِك حَتَّى سَيَّرْتنِي فِي بِلَادِك وَبَلَّغْتنِي بِنِعْمَتِك حَتَّى أَعَنْتنِي عَلَى قَضَاءِ مَنَاسِكِك فَإِنْ كُنْت رَضِيت عَنِّي فَازْدَدْ عَنِّي رِضًا وَإِلَّا فَمِنْ الْآنَ قَبْلَ أَنْ تَنْأَى عَنْ بَيْتِك دَارِي هَذَا أَوَانُ انْصِرَافِي إنْ أَذِنْت لِي غَيْرَ مُسْتَبْدِلٍ بِك وَلَا بِبَيْتِك وَلَا رَاغِبٍ عَنْك وَلَا عَنْ بَيْتِك اللَّهُمَّ فَاصْحَبْنِي بِالْعَافِيَةِ فِي بَدَنِي وَالْعِصْمَةِ فِي دِينِي وَأَحْسِنْ مُنْقَلَبِي وَارْزُقْنِي طَاعَتَك مَا أَحْيَيْتنِي

Artinya: “Ya Allah, rumah ini adalah rumah-Mu. Hamba ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki-Mu dan hamba perempuan-Mu. Engkau telah membawaku di atas makhluk-Mu yang Engkau tundukkan untukku, hingga Engkau jalankan aku melintasi negeri-negeri-Mu, dan Engkau sampaikan aku dengan nikmat-Mu sampai Engkau menolongku menyelesaikan manasik-Mu. Jika Engkau ridha kepadaku, maka tambahkanlah keridhaan itu kepadaku. Namun, jika belum, maka mulai saat ini sebelum aku jauh meninggalkan rumah-Mu, limpahkanlah keridhaan-Mu kepadaku. Inilah saat keberangkatanku jika Engkau mengizinkannya, tanpa berpaling dari-Mu dan dari rumah-Mu, serta tanpa rasa benci kepada-Mu dan rumah-Mu. Ya Allah, sertailah aku dengan kesehatan pada tubuhku, penjagaan pada agamaku, perbaikilah akhir perjalananku, dan karuniakan aku ketaatan kepada-Mu selama Engkau masih memberiku kehidupan.” (Al-Umm [Beirut: Dar al-Fikr], juz 2, h. 243)

Demikianlah doa saat berada di Multazam, dinding di antara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad, dengan harapan meraih ridha Allah SWT.

Imam an-Nawawi juga memberikan perhatian khusus terhadap doa di Multazam. Dalam kitab Al-Adzkar, beliau menegaskan bahwa tempat tersebut termasuk tempat yang mustajab untuk berdoa. Beliau kemudian menyebutkan doa yang dianjurkan untuk dibaca di sana, yakni sebagai berikut:

اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ حَمْداً يُوَافِي نِعَمَكَ، وَيُكَافِئُ مَزِيدَكَ، أَحْمَدُكَ بِجَمِيعِ مَحَامِدِكَ مَا عَلِمْتُ مِنْهَا وَمَا لَمْ أَعْلَمْ عَلَى جَمِيعِ نِعَمِكَ مَا عَلِمْتُ مِنْهَا وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، اللَّهُمَّ أَعِذْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، وَأَعِذْنِي مِنْ كُلِّ سُوءٍ، وَقَنِّعْنِي بِمَا رَزَقْتَنِي وَبَارِكْ لِي فِيهِ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ أَكْرَمِ وَفْدِكَ عَلَيْكَ، وَأَلْزِمْنِي سَبِيلَ الِاسْتِقَامَةِ حَتَّى أَلْقَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Ya Allah, bagi-Mu segala puji, pujian yang sebanding dengan nikmat-nikmat-Mu dan setara dengan tambahan karunia-Mu. Aku memuji-Mu dengan seluruh pujian yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui, atas seluruh nikmat-Mu yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui, dalam segala keadaan. Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah, lindungilah aku dari setan yang terkutuk, lindungilah aku dari segala keburukan, jadikan aku merasa cukup dengan rezeki yang Engkau berikan dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk tamu-Mu yang paling mulia di sisi-Mu, dan tetapkan aku di atas jalan istiqamah hingga aku berjumpa dengan-Mu, wahai Tuhan semesta alam.” (Al-Adzkar [Beirut: Dar al-Fikr], h. 276)

Setelah mengetahui apa yang dilakukan oleh Nabi SAW ketika berada di Mulatazam, dan mengetahui bagaimana para ulama menganjurkan agar berdoa di tempat ini, maka ketika Allah memberi kesempatan kita berada di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji atau umroh, berhentilah sejenak di Multazam di sela-sela thawaf, khususnya thawaf wada’.

Lalu jika memungkinkan, tempelkanlah wajah, dada, lengan, serta bentangkanlah telapak tangan di dinding Multazam. Kemudian, penuh khusyuk memanjatkan doa di atas dengan mengakui dosa-dosa, kelemahan, dan kebutuhan kita kepada Allah SWT.