• KEISLAMAN

Gus Baha: Hakikat Nikmat dan Kebutuhan yang Sering Disalahpahami

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Minggu, 30/03/2025
Gus Baha: Hakikat Nikmat dan Kebutuhan yang Sering Disalahpahami Ilustrasi (Foto: REPUBLIKA)

Terasmuslim.com - Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang terjebak dalam anggapan bahwa kebahagiaan berasal dari kemewahan dan harta benda. Padahal, hakikat kebahagiaan jauh lebih dalam dari sekadar memiliki sesuatu.

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha menyampaikan pemikirannya terkait konsep nikmat dan kebutuhan dalam sebuah ceramahnya. Menurut beliau, semakin banyak kebutuhan yang seseorang miliki, justru semakin memperlihatkan ketidaktahuannya tentang makna nikmat yang sesungguhnya.

Dalam sebuah video yang diunggah oleh kanal YouTube @AmanahRentCarSemarang, Gus Baha menegaskan bahwa banyaknya kebutuhan seringkali membuat seseorang terjebak dalam pola pikir konsumtif yang tidak ada habisnya. Ia memberi contoh sederhana, “Orang yang berpikir bahwa nikmat hanya sebatas secangkir kopi, padahal ada lebih banyak nikmat yang bisa dirasakan,” tuturnya.

Pandangan ini sejalan dengan ajaran Imam Syafi`i yang menyebutkan bahwa hakikat kecukupan bukanlah tentang memenuhi segala kebutuhan, melainkan tentang mengurangi ketergantungan terhadap hal-hal yang tidak esensial.

"Orang yang paling merasa cukup adalah mereka yang tidak banyak menuntut. Sebaliknya, mereka yang selalu mengejar lebih banyak hal, justru semakin sulit menemukan ketenangan," ujar Gus Baha.

Menurut beliau, manusia seringkali lupa bahwa keinginan tidak akan pernah ada ujungnya. Jika seseorang selalu berusaha memenuhi semua keinginannya, maka hidupnya akan dipenuhi dengan kegelisahan dan rasa kurang puas.

Selain itu, Gus Baha menyoroti bagaimana kebutuhan yang terus bertambah justru menjadikan seseorang terikat pada duniawi. "Semakin banyak yang kamu inginkan, semakin sulit kamu merasa bahagia," tegasnya.

Oleh karena itu, beliau mengajak umat Islam untuk lebih memahami esensi hidup sederhana. Hidup bukan sekedar mengejar harta atau status, tetapi lebih kepada bagaimana seseorang bisa merasa cukup dan bersyukur atas apa yang dimiliki.

Ia juga mengingatkan bahwa kesederhanaan bukan berarti menolak kemajuan. Sebaliknya, itu adalah bentuk kontrol diri agar tidak terjebak dalam perlombaan materi yang tak ada akhirnya.

Kunci utama dari hidup yang tenang, menurut Gus Baha, adalah rasa syukur. Orang yang bersyukur akan lebih mudah merasa puas dengan apa yang ada, tanpa harus selalu membandingkan diri dengan orang lain.

“Kadang kita lupa bahwa nikmat terbesar adalah ketenangan hati. Jika kamu selalu merasa cukup, maka kebahagiaan akan lebih mudah datang,” pungkasnya.

Pesan yang disampaikan Gus Baha ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati bukan diukur dari seberapa banyak yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar rasa syukur yang ada di dalam hati. Dengan memahami konsep ini, seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih damai dan penuh keberkahan.