Kisah Nabi Nuh AS
Terasmuslim.com - Kisah Nabi Nuh `Alaihissalam dan anaknya memberikan pelajaran berharga tentang batas keimanan dalam keluarga.
Allah Subhanahu wa Ta`ala mengutus Nabi Nuh untuk berdakwah kepada kaumnya selama ratusan tahun lamanya.
Namun, tidak sedikit dari kaum beliau yang mendustakan ajaran tauhid, termasuk anak kandung Nabi Nuh sendiri.
Anak yang bernama Kan`an tersebut memilih untuk tetap kafir dan bergabung dengan kelompok yang membangkang.
Ketika azab berupa banjir besar mulai melanda bumi, Nabi Nuh memanggil anaknya agar ikut naik ke dalam bahtera.
Ajakan penuh kasih sayang dari seorang ayah ini terekam jelas di dalam Al-Qur`anul Karim.
Peristiwa tersebut diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta`ala melalui Surah Hud ayat 42.
Meskipun diundang untuk menyelamatkan diri, anak Nabi Nuh dengan sombongnya menolak ajakan mulia tersebut.
Ia merasa yakin bahwa dirinya akan selamat dari terjangan air bah dengan cara berlari ke puncak gunung tinggi.
Keyakinan batil itu ditegaskan melalui jawabannya yang menolak untuk ikut masuk ke dalam kapal keselamatan.
Nabi Nuh lantas mengingatkan bahwa tidak ada satu pun yang dapat melindungi diri dari azab Allah selain rahmat-Nya.
Seketika itu pula, ombak besar datang memisahkan antara ayah dan anak yang durhaka tersebut.
Anak Nabi Nuh akhirnya tenggelam bersama kaum yang ingkar dan binasa dalam kehancuran total.
Kisah tragis ini menegaskan bahwa ikatan darah tidak akan mampu menyelamatkan seseorang tanpa adanya keimanan kepada Allah.
Ketentuan ilahi ini mengajarkan kita bahwa amal ibadah dan hidayah adalah penentu keselamatan di akhirat kelak.