Ilustrasi anjing penjaga ladang
Terasmuslim.com - Dalam pandangan Islam, anjing memiliki hukum najis mughallazah atau najis berat yang bersumber dari air liur dan kotorannya.
Penetapan najis berat ini didasarkan pada ketentuan syariat yang disepakati oleh para ulama mazhab.
Kedudukan masjid sebagai tempat suci menuntut adanya penjagaan kesucian yang ketat dari segala bentuk najis.
Larangan ini bertujuan agar ibadah yang dilaksanakan di dalam masjid sah dan diterima oleh Allah Ta`ala.
Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda bahwa sucinya bejana seseorang apabila dijilat anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali.
Salah satu dari cucuran air tersebut wajib dicampur dengan tanah yang bersih dan suci.
Hadis riwayat Imam Muslim ini menegaskan betapa kuatnya hukum najis yang melekat pada diri anjing.
Selain faktor najis, masjid adalah rumah Allah yang dimuliakan dan harus dijaga dari gangguan hewan.
Tempat ibadah umat Islam merupakan tempat berkumpulnya para malaikat rahmat untuk mendengarkan dzikir.
Keberadaan hewan yang membawa najis berat dikhawatirkan dapat mengotori kebersihan fisik dan kesucian ruhani masjid.
Di samping itu, syariat Islam juga melarang memelihara anjing di dalam rumah kecuali untuk kebutuhan tertentu.
Pengecualian tersebut hanya diberikan untuk anjing penjaga ladang, ternak, atau anjing pemburu yang sah.
Pengecualian ini tidak mencakup kebolehan memasukkan anjing ke dalam area masjid atau tempat ibadah.
Hikmah di balik aturan ini adalah mendidik umat Islam agar selalu mengutamakan kebersihan dan kesucian lahir batin.
Mari kita jaga kemuliaan rumah Allah dengan senantiasa mematuhi adab dan aturan syariat yang berlaku.