Ilustrasi foto Muslimah menunggu waktu berbuka puasa
Terasmuslim.com - Tradisi berpuasa pada hari-hari tertentu masih sering dijumpai dalam kebudayaan masyarakat Muslim Indonesia.
Banyak orang menjalankan puasa berdasarkan hitungan kalender adat, seperti puasa weton, puasa mutih, atau puasa hajat tradisi.
Secara hukum dasar, Al-Qur`an dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 menegaskan bahwa puasa adalah perintah ibadah yang memiliki batasan syariat.
Syariat Islam menetapkan bahwa suatu amalan puasa baru bernilai ibadah sah jika dilandasi oleh niat ikhlas dan petunjuk agama.
Apabila seseorang berpuasa hanya karena mengikuti adat tanpa landasan syariat, maka amalan tersebut tidak bernilai pahala ibadah.
Dalam Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap amalan ibadah sangat bergantung pada niatnya.
Selain itu, Hadis Riwayat Muslim juga mengingatkan agar umat Islam tidak mengkhususkan hari tertentu untuk berpuasa tanpa dalil sahih.
Para ulama menjelaskan bahwa puasa tradisi bisa menjadi sah apabila diniatkan sebagai puasa sunnah yang diajarkan Nabi SAW.
Sebagai contoh, jika puasa tradisi tersebut bertepatan dengan hari Senin atau Kamis, maka niatnya harus disesuaikan dengan sunnah.
Rasulullah SAW sendiri sangat menganjurkan puasa Senin dan Kamis sebagaimana diriwayatkan dalam Hadis Riwayat Tirmidzi.
Ibadah puasa juga disyariatkan pada hari-hari putih atau Ayyamul Bidh setiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriyah.
Niat menjadi kunci utama yang membedakan antara sekadar menahan lapar karena tradisi dan ibadah yang mendatangkan pahala.
Para ulama fiqih melarang keras bentuk puasa tradisi yang menyiksa diri atau menyandarkan keyakinan pada hal-hal mistis.
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk murni mengalihkan niat puasa tradisinya menjadi amalan puasa sunnah yang disyariatkan.
Semoga setiap ikhtiar puasa yang kita jalankan senantiasa sesuai dengan petunjuk Al-Qur`an dan Sunnah Baginda Rasulullah SAW.