Ilustrasi foto berbagi ilmu Islam
Terasmuslim.com - Setiap muslim tentu berharap seluruh amal kebaikan yang dikerjakannya dapat diterima dan membuah pahala di sisi Allah SWT.
Namun, terdapat beberapa kondisi mendasar yang dapat menyebabkan suatu amalan menjadi sia-sia dan ditolak oleh Sang Pencipta.
Perkara pertama yang membuat amalan gugur adalah perbuatan syirik atau menyekutukan Allah SWT dalam beribadah.
Allah SWT secara tegas mengingatkan dampak syirik dalam Al-Qur`an Surah Az-Zumar ayat 65.
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa jika seseorang berbuat syirik, maka niscaya akan hapuslah seluruh amalan yang telah dikerjakannya.
Perkara kedua yang merusak pahala ibadah adalah sifat riya atau beramal demi mendapatkan pujian dari sesama manusia.
Rasulullah SAW mengkhawatirkan sifat ini sebagaimana diriwayatkan dalam Hadis Riwayat Ahmad tentang bahaya syirik kecil, yaitu riya.
Dalam hadis tersebut, Allah akan menyuruh orang-orang yang riya untuk meminta balasan kepada manusia yang mereka harapkan pujiannya di dunia.
Allah SWT juga menegaskan ancaman bagi orang yang lalai dan riya dalam Al-Qur`an Surah Al-Ma`un ayat 4 sampai 6.
Perkara ketiga yang menyebabkan ibadah ditolak adalah melakukan amalan yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat atau bid`ah.
Keikhlasan dalam hati harus senantiasa bersanding dengan kebenaran tata cara ibadah sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW menegaskan aturan ini dalam Hadis Riwayat Muslim bahwa barang siapa melakukan suatu amalan tanpa perintah kami, maka amalan itu tertolak.
Oleh karena itu, niat yang tulus karena Allah dan kesesuaian dengan sunnah merupakan dua syarat mutlak diterimanya suatu amal.
Mengevaluasi kebersihan hati dan keabsahan tata cara ibadah menjadi langkah penting agar peluh kebaikan tidak berujung kerugian.
Kesimpulannya, menjauhi syirik, meredam riya, dan mengikuti tuntunan Nabi adalah kunci utama agar amalan kita diterima Allah SWT.