Ilustrasi foto doa ibu kepada anak
Terasmuslim.com - Orang tua sering kali meluapkan kekesalan atau emosi sesaat melalui ucapan dan doa yang buruk ketika menghadapi perilaku anak.
Padahal, perkataan yang keluar dari mulut seorang ayah atau ibu memiliki bobot yang sangat besar di hadapan Allah SWT.
Dalam ajaran Islam, lisan orang tua adalah doa yang sangat berpotensi menjadi kenyataan, baik doa kebaikan maupun keburukan.
Allah SWT memperingatkan sifat dasar manusia yang terkadang tergesa-gesa memohon keburukan sebagaimana ia memohon kebaikan.
Peringatan tersebut tercantum dalam Surah Al-Isra` ayat 11 yang berbunyi: "Dan manusia mendoakan keburukan sebagaimana dia mendoakan kebaikan, dan manusia bersifat tergesa-gesa."
Anjuran untuk menjaga lisan agar tidak mendoakan hal negatif kepada anak dipertegas secara langsung oleh Rasulullah SAW.
Dalam sebuah hadist sahih riwayat Muslim, Nabi SAW bersabda: "Janganlah kalian mendoakan keburukan atas diri kalian, anak-anak kalian, maupun harta kalian."
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa doa buruk tersebut bisa saja bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa oleh Allah SWT.
Jika doa buruk itu bertepatan dengan saat ijabah, maka bencana dan keburukan yang diucapkan benar-benar akan menimpa sang anak.
Penyesalan di kemudian hari tidak akan mampu mengubah takdir yang pernah diucapkan sendiri oleh orang tua di kala marah.
Secara psikologis dan spiritual, ucapan buruk orang tua juga dapat merusak mental serta masa depan tumbuh kembang anak.
Sebaliknya, Islam mengajarkan agar orang tua senantiasa mendoakan kebaikan, kesalehan, dan keberkahan bagi keturunannya.
Teladan para nabi dalam Al-Qur`an selalu menunjukkan betapa gigihnya mereka mendoakan kebaikan dan kesalehan bagi anak-anak mereka.
Ketika orang tua merasa kesal, hendaknya ia menahan diri, diam, atau mengganti luapan emosinya dengan untaian doa-doa kebaikan.
Menjaga lisan adalah kewajiban orang tua agar anak-anak selamat dan tumbuh menjadi generasi yang membanggakan agama serta keluarga.