Ilustrasi bulan Safar
Terasmuslim.com - Mitos mengenai bulan Shafar sebagai waktu yang penuh dengan kesialan dan bencana masih menyelimuti sebagian benak masyarakat hingga hari ini.
Secara etimologi, kata Shafar memiliki arti "kosong", yang merujuk pada tradisi masyarakat Arab kuno sebelum Islam.
Pada masa Arab Jahiliyah, orang-orang akan mengosongkan rumah mereka untuk pergi berperang atau merampok setelah berlalunya tiga bulan haram yang suci.
Suasana pemukiman yang sepi dan banyaknya peperangan yang pecah di bulan tersebut menciptakan kesan mencekam serta anggapan nasib buruk.
Akibatnya, timbul kepercayaan takhayul bahwa bulan Shafar membawa musibah, penyakit, serta menggagalkan berbagai hajat penting seperti pernikahan maupun bisnis.
Padahal, Islam datang sebagai penyempurna akidah dan menghapuskan seluruh bentuk kepercayaan pesimistis yang tidak rasional tersebut.
Rasulullah SAW secara tegas meluruskan doktrin salah ini melalui sabdanya yang diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Beliau bersabda, "Tidak ada penyakit menular (yang berpindah sendiri), tidak ada thiyarah (ramalan sial), tidak ada burung hantu (penanda petaka), dan tidak ada kesialan pada bulan Shafar."
Hadist shahih tersebut menjadi dalil pemungkas bahwa waktu atau bulan tidak memiliki kekuatan mandiri untuk mendatangkan takdir buruk.
Segala bentuk musibah, rezeki, keberuntungan, dan takdir sepenuhnya berada di bawah kehendak dan kekuasaan mutlak Allah SWT.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 286, Allah SWT mengingatkan bahwa setiap kebaikan maupun keburukan yang dialami manusia adalah hasil dari perbuatannya sendiri.
Menganggap suatu bulan sebagai pembawa sial secara tidak langsung meragukan ketetapan Allah yang mengatur siklus roda kehidupan manusia.
Sejarah bahkan mencatat peristiwa mulia terjadi di bulan ini, seperti pernikahan Rasulullah SAW dengan Khadijah RA serta awal hijrah ke Madinah.
Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya membersihkan pemikirannya dari prasangka mistis dan terus memperbanyak amal shalih di bulan Shafar.
Mari kita teguhkan tauhid dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah tanpa dibayangi ketakutan terhadap mitos-mitos yang menyesatkan.