Ilustrasi daging kurban (Foto: Pexels/Markus Spiske)
Terasmuslim.com - Ibadah kurban menyimpan dimensi sosial yang sangat kental di samping dimensi ritualnya kepada Allah SWT.
Membagikan daging kurban merupakan wujud nyata kepedulian seorang Muslim terhadap kondisi ekonomi saudara sesama.
Melalui distribusi yang merata, kegembiraan hari raya tidak hanya milik mereka yang mampu, tetapi juga kaum dhuafa.
Allah SWT berfirman, "Maka makanlah sebagian darinya dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta-minta." (QS. Al-Hajj: 36).
Hikmah utama dari berbagi ini adalah untuk mengikis sekat sosial dan mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
Rasulullah SAW sangat menganjurkan agar daging kurban dibagi menjadi tiga bagian: untuk keluarga, hadiah, dan sedekah.
Pembagian daging kurban kepada fakir miskin menjadi jalan untuk menghadirkan senyum di wajah mereka yang jarang mengonsumsi daging.
Ibadah ini mengajarkan kita bahwa harta yang kita miliki sejatinya terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan.
Dengan berbagi, seorang hamba belajar untuk melepaskan keterikatan hati pada materi demi meraih rida Sang Khalik.
Sebagaimana hadis Nabi SAW, "Tidaklah beriman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari).
Daging kurban yang dibagikan secara tulus dapat menjadi pembersih bagi harta dan jiwa sang pekurban dari sifat egois.
Kegiatan distribusi ini juga menghidupkan semangat gotong royong di lingkungan masjid maupun komunitas Muslim.
Setiap bungkus daging yang diterima oleh yang membutuhkan menjadi doa keberkahan bagi mereka yang berkurban.
Berbagi daging kurban adalah bukti bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil `Alamin).
Semoga semangat berbagi ini terus bersemi dalam hati kita, tidak hanya di saat Iduladha, namun dalam kehidupan sehari-hari.