• KISAH

Rahasia Cinta Rasulullah, Mengapa Beliau Tetap Shalat Malam Hingga Kaki Membengkak?

Yahya Sukamdani | Minggu, 03/05/2026
Rahasia Cinta Rasulullah, Mengapa Beliau Tetap Shalat Malam Hingga Kaki Membengkak? Ilustrasi foto shalat Tahajud

Terasmuslim.com - Kisah tentang perjuangan ibadah Nabi Muhammad SAW selalu menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah kering bagi umat Islam di seluruh dunia.

Beliau dikenal sebagai pribadi yang paling bertakwa, namun tetap menjalankan shalat malam dengan durasi yang sangat panjang dan khusyuk.

Saking lamanya berdiri menghadap Sang Pencipta, fisik beliau mengalami reaksi nyata berupa pembengkakan pada kedua telapak kakinya.

Fenomena ini terekam jelas dalam sebuah hadist shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah RA.

Aisyah RA sempat bertanya dengan nada penuh empati mengenai alasan beliau beribadah sekeras itu padahal dosa-dosanya telah diampuni.

"Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?" tanya Aisyah dalam riwayat tersebut.

Rasulullah SAW menjawab dengan sebuah kalimat yang menggetarkan hati: "Tidakkah patut aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?"

Jawaban singkat ini menegaskan bahwa motivasi ibadah tertinggi bukanlah rasa takut atau pamrih, melainkan rasa syukur yang mendalam.

Hal ini sejalan dengan perintah Allah SWT dalam Al-Qur`an Surah Al-Muzzammil ayat 2 yang memerintahkan hamba-Nya untuk bangun di malam hari.

"Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil," demikian penggalan firman Allah yang menjadi dasar syariat shalat malam.

Panjangnya shalat Nabi bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk kelezatan iman saat berkomunikasi langsung dengan Rabb semesta alam.

Beliau seringkali membaca surah-surah panjang seperti Al-Baqarah, An-Nisa, dan Ali Imran dalam satu rakaat shalat malamnya yang syahdu.

Kaki yang membengkak tersebut menjadi saksi bisu betapa cinta beliau kepada Allah jauh melampaui rasa lelah fisik yang dirasakan.

Keteladanan ini mengajarkan kita bahwa semakin tinggi derajat keimanan seseorang, seharusnya semakin giat pula ia dalam bersyukur.

Semoga kita diberikan kekuatan untuk meneladani kegigihan ibadah Rasulullah SAW meskipun hanya dengan beberapa rakaat tahajud yang istiqamah.