Terasmuslim.com - Islam mengajarkan umatnya untuk berakhlak mulia kepada semua manusia tanpa terkecuali. Salah satu bentuk akhlak tersebut adalah bersikap lembut kepada orang yang meminta-minta. Sikap ini mencerminkan keimanan dan ketakwaan seorang Muslim.
Allah SWT secara tegas melarang menghardik orang yang meminta dalam Surah Aḍ-Ḍuḥā ayat 10. Dalam ayat tersebut disebutkan, “Terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik.” Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga kehormatan orang yang sedang membutuhkan.
Larangan ini bukan tanpa hikmah, melainkan untuk menumbuhkan empati dan kepedulian sosial. Orang yang meminta bisa saja berada dalam kondisi terdesak dan membutuhkan pertolongan. Oleh karena itu, Islam mendorong sikap lembut sebagai bentuk rahmat kepada sesama.
Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam berinteraksi dengan orang yang membutuhkan. Beliau tidak pernah merendahkan atau menghardik orang yang datang meminta bantuan. Sebaliknya, beliau selalu merespons dengan kebaikan atau minimal kata-kata yang menenangkan.
Dalam perspektif syariat, membantu orang lain merupakan bagian dari ibadah yang dianjurkan. Allah SWT menjanjikan pahala besar bagi orang yang bersedekah dan membantu sesama. Bahkan senyuman yang tulus pun termasuk sedekah sebagaimana disebut dalam hadis.
Bersikap kasar kepada peminta justru dapat melukai hati dan bertentangan dengan nilai Islam. Ucapan yang baik dan sikap santun adalah bentuk akhlak yang dicintai Allah. Hal ini juga menjaga hubungan sosial tetap harmonis dan penuh kasih sayang.
Kesimpulannya, Islam mengajarkan kita untuk tidak menghardik orang yang meminta-minta, melainkan bersikap lembut dan penuh kasih. Dengan memberi sesuai kemampuan, kita telah menjalankan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Maka, jadikan setiap interaksi sebagai ladang pahala dan cerminan akhlak seorang Muslim sejati.