Ilustrasi foto bau mulut
Terasmuslim.com - Istilah “wangi kasturi” sering disebut dalam hadis tentang keutamaan puasa. Rasulullah SAW menyampaikan bahwa bau mulut orang yang berpuasa memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT. Hal ini bukan bermakna bahwa bau tersebut harum secara fisik bagi manusia, melainkan memiliki nilai kemuliaan di hadapan Allah sebagai tanda ketaatan dan pengorbanan seorang hamba.
Dalam hadis riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada wangi kasturi.” Kasturi sendiri dikenal sebagai minyak wangi terbaik dan termahal pada masa Arab dahulu, berasal dari kelenjar rusa tertentu, dengan aroma yang kuat dan khas. Dalam budaya Arab, kasturi adalah simbol keharuman paling tinggi.
Makna hadis ini bersifat ruhani, bukan jasmani. Secara medis, bau mulut orang berpuasa muncul karena lambung kosong dalam waktu lama. Namun di sisi Allah, bau itu menjadi bukti ibadah, kesabaran, dan ketundukan kepada perintah-Nya. Inilah bentuk balasan spiritual yang menunjukkan betapa Allah menilai pengorbanan hamba-Nya dengan ukuran yang berbeda dari ukuran manusia.
Para ulama menjelaskan bahwa perumpamaan “lebih harum dari kasturi” menunjukkan kemuliaan pahala, bukan anjuran untuk membiarkan diri dalam keadaan tidak bersih. Islam tetap menganjurkan kebersihan. Bahkan Rasulullah SAW tetap bersiwak ketika berpuasa. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga kebersihan mulut tidak mengurangi pahala puasa.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai ketakwaan. Bau mulut tersebut adalah konsekuensi dari menahan diri dari makan dan minum demi Allah. Karena itu, ia menjadi simbol kesungguhan ibadah yang dihargai tinggi oleh-Nya.
Dengan memahami makna wangi kasturi dalam hadis ini, seorang Muslim akan semakin menghargai ibadah puasanya. Apa yang mungkin tidak menyenangkan secara fisik di dunia, justru bernilai mulia di sisi Allah SWT. Inilah keindahan ajaran Islam: pahala ditimbang berdasarkan keikhlasan dan ketundukan, bukan sekadar penilaian indrawi manusia.