• KEISLAMAN

Perbedaan Puasa Muslim dan Yahudi

Yahya Sukamdani | Senin, 09/03/2026
Perbedaan Puasa Muslim dan Yahudi Ilustrasi menunggu waktu berbuka puasa (Foto:viva)

Terasmuslim.com - Puasa merupakan ibadah yang tidak hanya dikenal dalam Islam, tetapi juga dalam agama-agama terdahulu. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan bahwa kewajiban berpuasa telah diwajibkan kepada umat sebelum Nabi Muhammad SAW. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Ayat ini menunjukkan bahwa puasa juga dikenal oleh umat terdahulu, termasuk kaum Yahudi, meskipun bentuk dan tata caranya berbeda.

Salah satu perbedaan yang paling jelas antara puasa umat Islam dan puasa kaum Yahudi adalah pada aturan waktu dan tata cara pelaksanaannya. Dalam Islam, puasa Ramadhan dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa. Puasa ini berlangsung selama satu bulan penuh setiap tahun sebagai rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang mampu.

Sementara itu, kaum Yahudi juga memiliki tradisi puasa, salah satunya pada hari yang dikenal sebagai Yom Kippur, yaitu hari penebusan dosa. Pada hari tersebut mereka berpuasa selama sekitar 25 jam, dimulai dari matahari terbenam hingga matahari terbenam pada hari berikutnya. Namun, puasa ini tidak berlangsung selama satu bulan seperti dalam syariat Islam, melainkan hanya pada hari-hari tertentu dalam kalender keagamaan mereka.

Dalam sejarah Islam juga terdapat kisah mengenai puasa pada hari Asyura. Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut. Mereka mengatakan bahwa itu adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari Fir’aun. Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian,” lalu beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Namun, Rasulullah SAW kemudian memberikan perbedaan agar umat Islam tidak menyerupai tradisi Yahudi secara persis. Beliau menganjurkan agar puasa Asyura disertai dengan puasa pada hari lain, yaitu tanggal 9 atau 11 Muharram. Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW, “Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” Hadis ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan untuk memiliki identitas ibadah yang berbeda dari umat sebelumnya.

Dengan demikian, meskipun puasa juga dikenal oleh umat Yahudi, syariat Islam memiliki aturan, tujuan, dan tata cara yang berbeda. Puasa dalam Islam tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi sarana meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Melalui tuntunan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW, umat Islam diajarkan menjalankan puasa secara sempurna sebagai bentuk ketaatan dan penghambaan kepada Allah.