ilustrasi Jemaah haji Indonesia (Foto: api/katakini)
Terasmuslim.com - Dalam setiap safar ibadah menuju Tanah Suci, kendala teknis seperti keterlambatan jadwal pesawat atau paspor yang terselip sering kali menjadi ujian yang tidak terduga.
Situasi darurat ini sering kali memicu kepanikan dan menguras emosi jemaah, padahal di sinilah esensi dari nilai tawakal kita sedang diuji oleh Allah SWT.
Islam mengajarkan bahwa setiap hambatan di atas bumi ini tidak pernah terjadi secara kebetulan, melainkan atas izin dan takdir-Nya yang presisi.
Menghadapi ketidakpastian saat melakukan perjalanan menuntut kita untuk berserah diri secara total setelah melakukan ikhtiar atau usaha yang maksimal.
Fondasi ketenangan hati di tengah badai ujian ini telah digariskan dengan indah oleh Allah SWT di dalam Al-Qur`an Surat At-Talaq ayat 3.
"...Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (QS. At-Talaq: 3).
Sikap tawakal yang benar bukan berarti bersikap pasif, melainkan tetap tenang mencari solusi sembari meyakini ada hikmah besar di balik penundaan tersebut.
Rasulullah SAW memberikan teladan nyata bahwa ikhtiar yang logis harus berjalan beriringan dengan penyerahan jiwa yang utuh kepada Sang Pencipta.
Dalam sebuah hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW mengingatkan seorang arab badui tentang pentingnya menjaga ikhtiar sebelum memasrahkan hasil.
"Ikatlah untamu terlebih dahulu, kemudian baru engkau bertawakal kepada Allah." (HR. Tirmidzi).
Ketika paspor hilang atau jadwal penerbangan tertunda, alih-alih mengumpat, seorang muslim yang bijak akan segera berwudhu dan memperbanyak zikir istighfar.
Bisa jadi Allah SWT sedang menyelamatkan kita dari marabahaya yang lebih besar di depan sana melalui skenario penundaan perjalanan yang menyebalkan ini.
Safar ke Baitullah adalah madrasah ruhani sejati untuk mengikis sifat egois dan merasa berkuasa atas segala rencana hidup yang telah kita susun rapi.
Rasa lelah dan cemas yang timbul akibat kendala perjalanan tersebut juga bernilai pahala yang akan menggugurkan dosa-dosa kecil kita selama di jalan.
Setiap urusan seorang mukmin adalah kebaikan, baik saat mendapatkan kemudahan maupun saat diterpa ujian kesabaran di ruang tunggu bandara.
Ketika hati sudah mampu berdamai dengan ketetapan Allah, maka kendala seberat apa pun akan berubah menjadi cerita perjalanan yang sarat akan hikmah.
Pada akhirnya, belajar tawakal di tengah kemacetan atau kendala safar adalah kunci utama untuk meraih predikat mabrur sejak langkah pertama kita dimulai.