Ilustrasi foto transformasi setelah ibadah tanah suci
Terasmuslim.com - Ibadah haji dan umrah bukan sekadar perjalanan fisik menuju Baitullah di kota Makkah.
Bagi setiap Muslim, momentum suci ini adalah sebuah madrasah agung untuk menempa akhlak mulia.
Selama berada di Tanah Suci, para jemaah diajarkan untuk melepaskan segala keangkuhan dan atribut duniawi.
Pakaian ihram yang serbaputih menjadi simbol nyata bahwa semua manusia sama di hadapan-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta`ala telah memberikan panduan tegas mengenai hal ini dalam Al-Qur`an surah Al-Baqarah ayat 197:
"Barangsiapa menetapkan niatnya untuk melaksanakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan."
Ayat tersebut melarang keras jemaah melakukan perkataan kotor, perbuatan dosa, serta perdebatan yang sia-sia.
Melalui aturan ihram, umat Islam dilatih secara ketat untuk menjaga lisan, hati, dan juga perbuatan.
Ujian kesabaran sejati benar-benar diuji saat jutaan manusia berkumpul di satu tempat yang sama.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan motivasi besar melalui sebuah hadis riwayat Al-Bukhari:
"Siapa yang berhaji dan tidak berbuat rafats serta tidak berbuat fasik, ia kembali suci seperti hari dilahirkan ibunya."
Pencapaian gelar mabrur tidak diukur saat di maktab, melainkan dari perubahan perilaku setelah pulang ke tanah air.
Sepulang dari tanah suci, seorang haji atau mu`tamir seharusnya menjadi pribadi yang lebih peduli sesama.
Sifat egois, serakah, dan sombong yang dahulu melekat harus ditanggalkan di padang Arafah dan Mina.
Keberhasilan ibadah ini tercermin dari seberapa besar dampak positif yang ditebarkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Mari kita jadikan setiap manasik yang dijalani sebagai sarana rekonstruksi jiwa menuju ketakwaan yang hakiki.