• KEISLAMAN

Indikator Kesuksesan Sejati dalam Islam, Jabatan atau Keberkahan?

Yahya Sukamdani | Rabu, 10/06/2026
Indikator Kesuksesan Sejati dalam Islam, Jabatan atau Keberkahan? Ilustrasi foto menikmati keberkahan hidup

Terasmuslim.com - Banyak orang mengukur kesuksesan hidup hanya dari tingginya jabatan dan tebalnya dompet.

Di era modern ini, pangkat dan status sosial seolah menjadi standar utama penghormatan di masyarakat.

Namun, Islam datang membawa sudut pandang yang jauh lebih mendalam mengenai arti sebuah pencapaian.

Bagi seorang mukmin, puncak kesuksesan bukanlah takhta duniawi, melainkan hadirnya keberkahan dalam hidup.

Allah Subhanahu wa Ta`ala telah memberikan gambaran tegas mengenai hal ini dalam Al-Qur`an surah Ali `Imran ayat 185:

"Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia telah memperoleh kemenangan."

Ayat ini mengingatkan kita bahwa keselamatan di akhirat adalah indikator mutlak dari sebuah keberhasilan.

Jabatan yang tinggi di dunia justru memikul tanggung jawab dan pertanggungjawaban yang sangat berat kelak.

Tanpa adanya keberkahan, kekuasaan yang digenggam dengan susah payah bisa berubah menjadi sumber petaka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah memberikan peringatan keras dalam sebuah hadis riwayat Al-Bukhari:

"Sesungguhnya kalian nanti akan rakus terhadap jabatan, dan jabatan itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat."

Oleh karena itu, Islam tidak melarang umatnya menjadi pemimpin, asalkan amanah tersebut dijaga dengan takwa.

Kekayaan dan kedudukan yang berkah adalah yang membuat pemiliknya semakin dekat dan tunduk kepada Pencipta.

Kesuksesan sejati adalah ketika hati merasa cukup (qanaah) dengan apa yang telah Allah karuniakan.

Harta yang berkah, meskipun sedikit secara nominal, akan selalu mencukupi dan menenangkan jiwa yang bersyukur.

Mari kita tata kembali standar kesuksesan kita dengan mengutamakan rida Allah di atas segala pujian manusia.