Ilustrasi foto bau mulut
Terasmuslim.com - Bau mulut saat berpuasa sering menjadi pembahasan di tengah kaum muslimin. Kondisi ini muncul karena lambung kosong dalam waktu lama sehingga produksi air liur berkurang. Namun Rasulullah SAW memberikan perspektif spiritual yang berbeda. Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda, “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” Sabda Nabi Muhammad SAW ini menunjukkan bahwa kondisi tersebut memiliki nilai ibadah, karena lahir dari ketaatan kepada Allah SWT.
Hadis tersebut bukan berarti Islam menganjurkan membiarkan kebersihan diri terbengkalai. Islam adalah agama yang sangat menekankan thaharah dan kebersihan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 222, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” Ayat ini menjadi dasar bahwa menjaga kebersihan adalah bagian dari keimanan, termasuk saat menjalankan puasa.
Para ulama menjelaskan bahwa bau mulut yang dimaksud dalam hadis berasal dari perut akibat proses puasa, bukan karena sisa makanan atau kurang menjaga kebersihan gigi. Karena itu, menghilangkan bau dengan cara menjaga kebersihan mulut tidaklah terlarang. Rasulullah SAW sendiri sangat menganjurkan bersiwak. Dalam hadis sahih disebutkan, “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap hendak shalat.” Anjuran ini bersifat umum, termasuk bagi orang yang berpuasa.
Mayoritas ulama membolehkan bersiwak atau menyikat gigi saat puasa, selama tidak ada sesuatu yang tertelan. Sebagian sahabat seperti Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma juga diriwayatkan bersiwak dalam keadaan berpuasa. Ini menunjukkan bahwa menjaga kebersihan mulut tidak membatalkan puasa. Bahkan hal itu sejalan dengan semangat syariat yang menjaga kebersihan lahir dan batin.
Adapun penggunaan pasta gigi atau obat kumur diperbolehkan selama berhati-hati agar tidak tertelan. Jika sampai tertelan dengan sengaja, maka puasanya batal. Prinsip dasarnya adalah menghindari sesuatu yang masuk ke dalam tubuh melalui rongga terbuka dengan sengaja. Karena itu, kehati-hatian menjadi kunci agar ibadah tetap sah sekaligus kebersihan tetap terjaga.
Kesimpulannya, bau mulut orang berpuasa memang memiliki keutamaan di sisi Allah karena lahir dari ketaatan. Namun Islam tidak pernah memerintahkan umatnya untuk meninggalkan kebersihan. Menghilangkan bau dengan bersiwak atau menyikat gigi tetap dibolehkan selama tidak membatalkan puasa. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga kebersihan, adab, dan kesempurnaan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW.