• KEISLAMAN

Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar, Tapi Menjaga Lisan dan Anggota Tubuh

Yahya Sukamdani | Kamis, 19/02/2026
Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar, Tapi Menjaga Lisan dan Anggota Tubuh Ilustrasi Menjaga lisan (Foto: Ist)

Terasmuslim.com - Puasa dalam Islam bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk pelanggaran syariat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 bahwa puasa diwajibkan agar manusia bertakwa. Takwa tidak mungkin terwujud hanya dengan menahan makan dan minum, tetapi harus disertai penjagaan lisan, pandangan, pendengaran, dan seluruh anggota tubuh dari dosa.

Rasulullah SAW memberikan peringatan tegas terkait hal ini. Dalam hadits riwayat Bukhari, beliau bersabda bahwa barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya. Hadits ini menunjukkan bahwa inti puasa adalah pengendalian diri. Menahan lapar tanpa menjaga lisan dari ghibah, fitnah, atau ucapan kotor, akan mengurangi bahkan menghilangkan nilai puasa itu sendiri.

Lebih jauh, Nabi Muhammad SAW juga bersabda bahwa jika seseorang dicaci atau diajak bertengkar saat berpuasa, hendaklah ia mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Ini bukan sekadar kalimat, tetapi bentuk komitmen untuk menjaga diri dari emosi dan balas dendam. Puasa melatih kesabaran dan kedewasaan dalam menghadapi provokasi.

Al-Qur’an pun mengingatkan pentingnya menjaga anggota tubuh dari dosa. Dalam Surah An-Nur ayat 30, Allah memerintahkan kaum beriman untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka. Ayat ini relevan dengan kondisi orang berpuasa, karena menjaga pandangan dari hal haram adalah bagian dari kesempurnaan ibadah. Puasa yang benar akan mendorong seorang muslim untuk lebih berhati-hati dalam setiap gerak dan ucapannya.

Para ulama menjelaskan bahwa anggota tubuh memiliki “puasa” masing-masing. Lisan berpuasa dari dusta dan ghibah, mata berpuasa dari pandangan haram, telinga berpuasa dari mendengar keburukan, dan tangan berpuasa dari mengambil yang bukan haknya. Jika semua anggota tubuh turut berpuasa, maka barulah terwujud puasa yang hakiki dan bernilai di sisi Allah.

Dengan demikian, perintah menjaga lisan dan anggota tubuh saat berpuasa adalah bagian inti dari syariat. Puasa sejati membentuk pribadi yang lebih bersih, lebih sabar, dan lebih bertakwa. Ramadan bukan sekadar perubahan jadwal makan, tetapi momentum penyucian diri secara menyeluruh agar setelahnya seorang muslim keluar sebagai pribadi yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah.