Terasmuslim.com - Perbedaan dalam penentuan awal Ramadan dan hari raya kerap menjadi dinamika tahunan di tengah umat Islam. Namun Islam sejatinya mengajarkan pentingnya persatuan dan kebersamaan dalam perkara yang menyangkut kemaslahatan publik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 59 agar kaum beriman menaati Allah, Rasul, dan ulil amri (pemimpin) di antara mereka. Dalam konteks negara, keputusan pemerintah tentang awal Ramadan dan Idul Fitri termasuk dalam ranah kebijakan publik yang bertujuan menjaga ketertiban dan persatuan umat.
Rasulullah SAW bersabda, “Puasa itu pada hari kalian berpuasa, dan berbuka itu pada hari kalian berbuka.” (HR. Tirmidzi). Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan pentingnya mengikuti keputusan jamaah kaum muslimin dan otoritas yang sah, agar ibadah puasa dan hari raya tidak menimbulkan perpecahan. Imam Ahmad dan para fuqaha menekankan bahwa kebersamaan lebih diutamakan dalam persoalan yang bersifat ijtihadi seperti penetapan hilal.
Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Agama menggelar sidang isbat yang melibatkan para ulama, ormas Islam, dan pakar astronomi. Pendekatan rukyat dan hisab dipertemukan dalam forum ilmiah demi menghasilkan keputusan yang dapat diterima bersama. Tradisi sidang isbat ini menjadi sarana musyawarah yang mencerminkan prinsip syura dalam Islam, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Sejarah menunjukkan bahwa para sahabat pun mengikuti keputusan pemimpin dalam urusan yang menyangkut kepentingan umum. Di masa Umar bin Khattab, kebijakan-kebijakan publik sering kali diambil berdasarkan musyawarah dan pertimbangan maslahat. Ketaatan kepada pemimpin dalam perkara yang tidak melanggar syariat adalah bagian dari menjaga stabilitas dan menghindari fitnah. Persatuan umat jauh lebih besar nilainya daripada mempertajam perbedaan metode penetapan awal bulan.
Puasa dan Idul Fitri bukan sekadar ibadah personal, melainkan juga syiar kolektif umat Islam. Takbir yang menggema serentak, shalat Id yang dilaksanakan bersama, serta suasana silaturahmi yang kompak adalah cerminan ukhuwah Islamiyah. Perpecahan waktu pelaksanaan seringkali menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat awam dan berpotensi melemahkan wibawa umat di hadapan publik.
Karena itu, berpuasa dan berhari raya bersama pemerintah selama tidak bertentangan dengan nash syar’i adalah pilihan yang mendekati kemaslahatan umum. Sikap bijak ini mencerminkan kedewasaan beragama dan komitmen terhadap persatuan. Di tengah tantangan zaman, umat Islam memerlukan kebersamaan, bukan perbedaan yang diperuncing. Semoga Allah Ta’ala menyatukan hati kaum muslimin dan menjadikan momentum Ramadan serta Idul Fitri sebagai perekat ukhuwah yang kokoh.