• KEISLAMAN

Banyak Sedikitnya Rezeki Tergantung Prasangka Manusia

Yahya Sukamdani | Jum'at, 13/02/2026
Banyak Sedikitnya Rezeki Tergantung Prasangka Manusia Ilustrasi dunia menurut Al quran

Terasmuslim.com - Dalam pandangan Islam, rezeki bukan hanya soal angka dan materi, melainkan juga berkaitan erat dengan kondisi hati manusia. Banyak atau sedikitnya rezeki sering kali dipengaruhi oleh prasangka seseorang kepada Allah. Ketika hati dipenuhi husnuzan (prasangka baik), rezeki terasa lapang dan penuh keberkahan. Sebaliknya, prasangka buruk menjadikan rezeki yang banyak terasa sempit dan tidak menenangkan.

Allah menegaskan dalam Al-Qur`an bahwa rezeki telah ditetapkan dengan hikmah-Nya. “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki” (QS. Ar-Ra’d: 26). Ayat ini menunjukkan bahwa ukuran rezeki bukanlah tanda cinta atau murka Allah, melainkan ujian. Prasangka manusialah yang menentukan apakah ujian itu disyukuri atau justru dikeluhkan.

Rasulullah SAW menegaskan hubungan erat antara prasangka dan ketentuan Allah dalam hadits qudsi: “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” Hadits ini memberi pesan mendalam bahwa keyakinan hati memiliki dampak besar dalam kehidupan. Hamba yang yakin Allah Maha Pemberi akan melihat peluang di tengah kesempitan, sedangkan hamba yang curiga kepada takdir akan merasa kekurangan meski bergelimang nikmat.

Prasangka buruk terhadap rezeki sering melahirkan kegelisahan, iri, dan keluhan yang tiada henti. Padahal, Islam mengajarkan qana’ah dan syukur sebagai kunci keberkahan. Rezeki yang sedikit namun disyukuri dapat mencukupi, sementara rezeki yang melimpah tetapi dipandang dengan keluhan justru mengundang kesempitan batin dan hilangnya keberkahan.

Pada akhirnya, banyak sedikitnya rezeki tidak hanya diukur dari apa yang diterima tangan, tetapi dari apa yang dirasakan hati. Islam mengarahkan umatnya untuk memperbaiki prasangka kepada Allah, karena dari sanalah ketenangan dan keberkahan mengalir. Dengan husnuzan, rezeki apa pun menjadi nikmat; dengan su’uzan, nikmat berubah menjadi beban.