Ilustrasi khawatir rezeki
Terasmuslim.com - Kekhawatiran akan masa depan adalah fitrah manusia. Setiap insan pernah diliputi rasa takut terhadap rezeki, kesehatan, jodoh, atau ajal. Namun Islam memandang kegelisahan ini bukan tanpa makna. Ia adalah ujian keimanan, apakah hati lebih condong kepada rasa takut atau kepada keyakinan akan janji Allah. Dalam Al-Qur`an, Allah mengingatkan bahwa kehidupan dunia memang penuh ujian agar tampak siapa yang paling baik amalnya.
Islam menegaskan bahwa rezeki dan takdir berada sepenuhnya dalam genggaman Allah. Allah berfirman, “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu” (QS. Adz-Dzariyat: 22). Ayat ini menegur hati yang terlalu sibuk mengkhawatirkan hari esok, seakan-akan masa depan berada di bawah kendali manusia. Padahal, yang dituntut dari seorang mukmin adalah ikhtiar yang sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh tawakal.
Rasulullah SAW juga mengajarkan sikap mental yang menenangkan dalam menghadapi masa depan. Dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi, beliau bersabda bahwa seandainya manusia bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki sebagaimana burung yang pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang. Hadits ini menegaskan bahwa kekhawatiran berlebihan justru melemahkan iman, sementara tawakal menguatkan hati.
Kekhawatiran yang tidak dikendalikan dapat berubah menjadi penyakit hati: su’uzan kepada Allah. Seorang mukmin sejatinya berprasangka baik terhadap Rabb-nya, yakin bahwa setiap ketetapan Allah mengandung hikmah. Bahkan ketika masa depan tampak gelap, Islam mengajarkan agar lisan tetap basah dengan doa dan istighfar, karena pertolongan Allah sering datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
Pada akhirnya, kekhawatiran akan masa depan adalah cermin kualitas iman. Ia menjadi ujian apakah seorang hamba memilih tenggelam dalam kecemasan atau bangkit dengan keyakinan. Islam tidak melarang perencanaan, tetapi menegaskan agar hati tidak bergantung pada rencana, melainkan pada Allah Yang Maha Mengatur. Dengan iman, sabar, dan tawakal, masa depan tidak lagi menjadi sumber ketakutan, melainkan ladang harapan.