• KEISLAMAN

Inilah Tiga Jalan Menuju Ketenangan Hati dalam Ajaran Islam

Yahya Sukamdani | Kamis, 12/02/2026
Inilah Tiga Jalan Menuju Ketenangan Hati dalam Ajaran Islam Ilustrasi seorang wanita Muslim yang sedang beristirahat dengan tenang di rumahnya

Terasmuslim.com - Ketenangan hati adalah nikmat besar yang sering dicari manusia, namun tidak semua orang menemukannya. Islam mengajarkan bahwa ketenangan bukan semata hasil dari banyaknya harta atau tingginya kedudukan, melainkan buah dari kedekatan kepada Allah SWT. Firman-Nya, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28), menjadi dasar bahwa sumber ketenteraman sejati adalah hubungan yang baik dengan Rabb semesta alam.

Salah satu jalan menuju ketenangan adalah diam dari perkataan yang tidak perlu. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Diam bukan berarti pasif, tetapi menjaga lisan dari ghibah, dusta, dan perdebatan yang tidak membawa manfaat. Banyak kegelisahan justru lahir dari kata-kata yang berlebihan dan tidak terjaga.

Ibadah juga menjadi pilar utama ketenangan jiwa. Shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menenangkan hati. Allah SWT berfirman, “Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al-Baqarah: 45). Dalam sujud dan doa, seorang hamba menumpahkan segala kegundahan kepada Allah, sehingga beban batin terasa lebih ringan.

Selain diam dan ibadah, Islam mengajarkan untuk menjauh dari segala yang sia-sia. Allah SWT menyebut ciri orang beriman, “Dan mereka yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna.” (QS. Al-Mu’minun: 3). Hal sia-sia, baik berupa percakapan, tontonan, maupun aktivitas tanpa manfaat, sering menyita waktu dan energi, lalu meninggalkan kekosongan dalam hati.

Rasulullah SAW juga bersabda, “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menegaskan bahwa ketenangan lahir dari hidup yang terarah dan bermakna. Ketika waktu diisi dengan hal yang bermanfaat, hati tidak mudah gelisah dan pikiran lebih terjaga dari kegundahan.

Dengan mempraktikkan diam yang bijak, ibadah yang konsisten, dan menjauhi hal sia-sia, seorang muslim akan merasakan ketenangan yang bertahap namun mendalam. Hidup menjadi lebih ringan, fokus, dan penuh makna. Inilah ketenangan yang tidak bergantung pada keadaan dunia, melainkan tumbuh dari iman dan kedekatan kepada Allah SWT.