Ilustrasi foto mengobrol dengan rekan kerja
Terasmuslim.com - Perselingkuhan di tempat kerja jarang terjadi secara tiba-tiba. Ia hampir selalu berawal dari hal yang terlihat sepele: obrolan ringan yang terlalu intens, curhat pribadi kepada lawan jenis, perhatian kecil yang berulang, hingga komunikasi di luar jam kerja tanpa urgensi. Dalam suasana profesional yang seharusnya dijaga dengan adab dan batasan, kelengahan kecil dapat menjadi pintu masuk bagi fitnah yang lebih besar. Islam sejak awal telah memperingatkan agar umatnya tidak meremehkan langkah-langkah kecil menuju dosa.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32). Perhatikan redaksi ayat tersebut: bukan hanya melarang zina, tetapi melarang mendekatinya. Ini menunjukkan bahwa segala pintu yang mengarah pada perselingkuhan termasuk interaksi tanpa batas, khalwat, atau komunikasi emosional yang melampaui profesionalitas harus diwaspadai sejak awal.
Di tempat kerja, interaksi antara pria dan wanita memang tidak terhindarkan. Namun Islam menetapkan rambu-rambu yang jelas. Allah berfirman kepada para wanita mukminah, “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (QS. Al-Ahzab: 32). Ayat ini tidak hanya berbicara tentang wanita, tetapi menjadi prinsip umum bahwa komunikasi harus dijaga dalam koridor kehormatan, tidak genit, tidak menggoda, dan tidak membuka ruang bagi syahwat.
Rasulullah SAW juga mengingatkan, “Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan.” (HR. Tirmidzi). Dalam konteks modern, “berduaan” tidak selalu berarti secara fisik di ruangan tertutup. Chat pribadi yang intens, hubungan emosional tersembunyi, dan komunikasi rahasia juga bisa menjadi bentuk khalwat digital yang membuka celah godaan.
Perselingkuhan sering kali tumbuh karena kurangnya benteng iman dan ketidakpuasan yang tidak dikelola dengan benar dalam rumah tangga. Padahal solusi dalam Islam bukan mencari pelarian, melainkan memperbaiki komunikasi dan mendekat kepada Allah. Allah mengingatkan, “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 36). Setiap pesan yang dikirim, setiap tatapan yang disengaja, dan setiap perasaan yang dipelihara akan dimintai hisab.
Maka, menjaga profesionalitas di tempat kerja bukan sekadar etika sosial, tetapi bagian dari ketaatan. Perselingkuhan tidak dimulai dari zina, melainkan dari kelalaian menjaga batas. Seorang Muslim dituntut untuk menjaga pandangan, lisan, dan hati. Karena rumah tangga yang dibangun dengan akad suci tidak boleh runtuh hanya karena obrolan yang dianggap “sekadar teman kerja”.