Ilustrasi foto anak muda nongkrong di jalan
Terasmuslim.com - Dalam Islam, berkumpul dan bergaul adalah fitrah manusia. Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa agar saling mengenal (QS. Al-Hujurat: 13). Nongkrong atau berkumpul bersama teman bukan sesuatu yang dilarang selagi diisi dengan hal bermanfaat. Islam hanya memberi rambu agar pergaulan tidak menjadi pintu maksiat, fitnah, atau pemborosan waktu.
Ketika nongkrong, Islam menekankan adab menjaga lisan. Allah melarang keras ghibah dalam QS. Al-Hujurat: 12, yang diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa ucapan baik adalah sedekah. Karena itu, nongkrong seharusnya menjadi ajang saling menguatkan, bukan tempat menyebarkan gosip, cemoohan, atau candaan yang menyakitkan.
Nongkrong yang baik sangat dipengaruhi oleh teman yang ada di sekeliling kita. Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang tergantung agama temannya, maka lihatlah dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud). Jika teman yang dipilih adalah mereka yang mengajak kepada kebaikan, maka pertemuan membawa keberkahan. Sebaliknya, nongkrong bisa menjadi pintu keburukan bila ditemani orang yang suka maksiat, minuman haram, atau kelalaian.
Islam mengajarkan bahwa waktu adalah amanah yang harus dijaga. Nongkrong hendaknya tidak melalaikan waktu shalat, tidak membuat seseorang lupa tanggung jawab, atau mengarah pada perbuatan sia-sia. Allah berfirman, “Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian kecuali yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati.” (QS. Al-Asr: 1–3). Maka nongkrong yang benar adalah yang menghadirkan manfaat, memperkuat silaturahmi, dan menjaga ketaatan kepada Allah.