Ilustrasi foto akad nikah
Terasmuslim.com - Menikah sering dibayangkan sebagai gerbang kebahagiaan tanpa cela. Media sosial, film, dan kisah romantis kerap membentuk ekspektasi tinggi tentang pasangan yang sempurna, rumah tangga yang selalu harmonis, dan cinta yang selalu hangat. Namun ketika realita berbicara tentang perbedaan karakter, masalah ekonomi, komunikasi yang buntu, hingga konflik kecil yang berulang, sebagian pasangan mulai merasa kecewa. Di sinilah iman diuji: apakah pernikahan dipahami sebagai ibadah atau sekadar pelampiasan harapan duniawi?
Allah Ta’ala berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah).” (QS. Ar-Rum: 21). Ayat ini tidak menjanjikan rumah tangga tanpa ujian, melainkan menegaskan bahwa ketenangan lahir dari proses membangun mawaddah dan rahmah, bukan dari kesempurnaan pasangan.
Rasulullah SAW juga mengingatkan agar seseorang tidak hanya terpaku pada kekurangan pasangannya. Beliau bersabda, “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu sifat darinya, ia akan ridha dengan sifat lainnya.” (HR. Muslim). Hadis ini menjadi fondasi penting ketika ekspektasi tak sesuai realita. Tidak ada manusia tanpa cela, dan pernikahan bukan tentang menemukan yang sempurna, tetapi tentang menerima dan saling menyempurnakan.
Sering kali kekecewaan muncul karena pernikahan dimasuki tanpa ilmu. Padahal Islam memerintahkan kesiapan lahir dan batin sebelum menikah. Rasulullah SAW bersabda, “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian mampu (ba’ah), maka menikahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kemampuan di sini tidak hanya finansial, tetapi juga kedewasaan emosional dan tanggung jawab. Tanpa bekal ilmu dan kesabaran, ekspektasi akan mudah berubah menjadi tuntutan.
Islam mengajarkan bahwa ujian dalam rumah tangga adalah bagian dari sunnatullah. Allah berfirman, “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155). Termasuk dalam ujian itu adalah gesekan dalam pernikahan. Sabar, komunikasi yang baik, dan doa adalah kunci menjaga perahu rumah tangga tetap berlayar.
Ketika ekspektasi menikah tak sesuai realita, jangan tergesa menyimpulkan bahwa cinta telah salah alamat. Bisa jadi yang kurang adalah syukur, ilmu, dan upaya memperbaiki diri. Pernikahan adalah ladang pahala, tempat belajar ikhlas, dan ruang memperbaiki akhlak. Bukan tentang seberapa sempurna pasangan kita, tetapi seberapa sungguh kita menjadikan pernikahan sebagai jalan menuju ridha Allah.