• KEISLAMAN

Memutus Silaturahmi, Bagaimana Pandangan Islam?

Yahya Sukamdani | Minggu, 08/02/2026
Memutus Silaturahmi, Bagaimana Pandangan Islam? Ilustrasi foto silaturahmi keluarga

Terasmuslim.com - Islam menempatkan silaturahmi sebagai salah satu fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat. Menjaga hubungan kekerabatan bukan sekadar etika sosial, melainkan perintah agama yang memiliki konsekuensi pahala dan dosa. Karena itu, sikap durhaka terutama kepada orang tua serta memutus tali silaturahmi termasuk perbuatan yang diharamkan dan sangat dibenci oleh Allah Ta’ala.

Al-Qur’an dengan tegas memperingatkan bahaya memutus silaturahmi. Allah berfirman: “Maka apakah sekiranya kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad: 22). Dalam ayat berikutnya, Allah menyebut orang-orang yang melakukan hal tersebut sebagai golongan yang dilaknat dan ditutup pendengaran serta penglihatan hatinya (QS. Muhammad: 23). Ini menunjukkan bahwa memutus silaturahmi bukan dosa ringan, melainkan sebab datangnya laknat Allah.

Rasulullah SAW juga memberikan peringatan keras dalam banyak hadist. Beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ancaman ini menjadi isyarat betapa beratnya dosa tersebut, karena ia bukan hanya merusak hubungan antar manusia, tetapi juga merusak hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Durhaka kepada orang tua (uququl walidain) merupakan bentuk paling berat dari pemutusan silaturahmi. Allah menyandingkan perintah berbuat baik kepada orang tua dengan perintah mentauhidkan-Nya: “Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra: 23). Ketika perintah ini dilanggar, maka rusaklah tatanan keluarga dan hilanglah keberkahan hidup.

Sebaliknya, menjaga silaturahmi mendatangkan banyak kebaikan. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadist ini menegaskan bahwa silaturahmi bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga sebab turunnya keberkahan dunia dan akhirat.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya berhati-hati terhadap sikap ego, dendam, dan gengsi yang sering menjadi alasan putusnya silaturahmi. Islam mengajarkan untuk tetap menyambung hubungan meski disakiti. Sebab, menjaga silaturahmi adalah cermin keimanan, sementara memutusnya adalah tanda lemahnya iman dan sebab datangnya murka Allah.