• KEISLAMAN

Tidakkah Kita Cemburu kepada Mereka yang Istiqamah

Yahya Sukamdani | Rabu, 04/02/2026
Tidakkah Kita Cemburu kepada Mereka yang Istiqamah Ilustrasi teman mengajak ke masjid

Terasmuslim.com - Melihat orang-orang yang istiqamah dalam ibadah seharusnya menumbuhkan rasa cemburu yang positif dalam diri seorang muslim. Cemburu dalam kebaikan bukanlah hasad, tetapi dorongan untuk memperbaiki diri. Allah SWT berfirman: “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba-lomba” (QS. Al-Muthaffifin: 26). Ayat ini mengajarkan bahwa kecemburuan yang benar adalah berlomba dalam ketaatan, bukan iri yang merusak hati.

Istiqamah dalam ibadah adalah karunia besar dari Allah SWT. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka istiqamah, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati” (QS. Al-Ahqaf: 13). Ayat ini menunjukkan bahwa istiqamah adalah tanda keimanan yang kuat dan membawa ketenangan jiwa.

Sebaliknya, ketika seseorang masih mudah dikendalikan oleh hawa nafsu, itu menjadi tanda bahwa hatinya memerlukan perbaikan. Allah SWT mengingatkan: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23). Ayat ini menegaskan bahwa mengikuti hawa nafsu tanpa kendali dapat menjauhkan manusia dari ketaatan kepada Allah.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa jihad terbesar seorang hamba adalah melawan hawa nafsunya. Beliau bersabda: “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menggambarkan bahwa kemenangan sejati adalah kemampuan mengendalikan diri dan tetap istiqamah dalam kebaikan.

Islam tidak menuntut kesempurnaan, tetapi kesungguhan dan kontinuitas dalam amal. Rasulullah SAW bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini memberi harapan bahwa siapa pun bisa meraih istiqamah dengan langkah kecil namun konsisten.

Karena itu, kecemburuan terhadap orang-orang yang istiqamah seharusnya menjadi cambuk bagi diri sendiri untuk lebih mendekat kepada Allah SWT. Dengan doa, muhasabah, dan usaha melawan hawa nafsu, setiap muslim memiliki peluang untuk memperbaiki kualitas ibadahnya. Istiqamah bukan hasil kekuatan diri semata, tetapi buah dari pertolongan Allah bagi hamba yang bersungguh-sungguh.