Ilustrasi foto menghina orang lain
Terasmuslim.com - Dalam Islam, sifat tawadhu’ (rendah hati) merupakan akhlak mulia yang sangat dicintai Allah ﷻ, sedangkan sifat suka memvonis, merendahkan, atau menghakimi orang lain adalah akhlak tercela. Orang yang tawadhu’ menyadari kelemahan dirinya dan menyerahkan penilaian hati kepada Allah semata. Al-Qur’an melarang sikap merasa paling benar, “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32). Ayat ini menjadi dasar bahwa memvonis manusia bertentangan dengan hakikat tawadhu’.
Rasulullah ﷺ menegaskan keutamaan tawadhu’ dalam banyak hadits. Beliau bersabda, “Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa tawadhu’ melahirkan kasih sayang, sikap lembut, dan kehati-hatian dalam menilai orang lain. Sebaliknya, orang yang gemar memvonis biasanya diliputi ujub dan merasa lebih suci, sehingga jauh dari sifat rendah hati.
Islam juga secara tegas melarang sikap meremehkan dan menghakimi sesama Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda, “Cukuplah seseorang dikatakan berbuat jahat apabila ia meremehkan saudaranya sesama Muslim.” (HR. Muslim). Suka memvonis sering kali muncul dari prasangka buruk dan minimnya ilmu, padahal Allah ﷻ melarang prasangka dan mencari-cari kesalahan orang lain sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Hujurat: 12.
Dengan demikian, tawadhu’ dan sifat suka memvonis tidak mungkin bersatu dalam satu hati. Orang yang tawadhu’ akan sibuk memperbaiki dirinya dan mendoakan kebaikan bagi orang lain, bukan menghakimi. Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang beruntung adalah orang yang sibuk dengan aib dirinya sendiri daripada aib orang lain.” (HR. Al-Bazzar, hasan). Inilah akhlak mulia yang harus dihidupkan agar ukhuwah terjaga dan hati senantiasa bersih.